Ali Khamenei Tuding Musuh Iran Picu Kerusuhan

Antara
02/1/2018 22:31
Ali Khamenei Tuding Musuh Iran Picu Kerusuhan
(AFP)

PEMIMPIN Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei menuding para musuh Republik Islam Iran telah memancing kerusuhan di negara tersebut, dalam gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang dimulai akhir pekan lalu.

Polisi sudah menangkap lebih dari 450 demonstran di Teheran sepanjang tiga hari terakhir, kata wakil gubernur provinsi setempat. Selain itu, sebagian pengunjuk rasa juga menyerang sejumlah pos polisi di kota lain pada Senin (1/1) malam.

Satu orang anggota pasukan keamanan dikabarkan tewas pada Senin (1/1), sehingga membuat angka kematian naik menjadi sedikitnya 14 orang.

Dalam komentar pertama terkait kerusuhan tersebut, Khamenei mengatakan, "Dalam beberapa hari terakhir, musuh-musuh Iran menggunakan berbagai cara termasuk uang, senjata, politik dan aparat intelejen untuk menciptakan masalah bagi Republik Islam."

Dia tidak menyebut siapa musuh yang dimaksud. Namun, Sekretaris Dewan Keamanan Agung Nasional Ali Shamkhani mengatakan bahwa Amerika Serikat, Inggris, dan Arab Saudi adalah dalang di balik kerusuhan di Iran.

"Arab Saudi akan memperoleh balasan tidak terduga dari Iran dan mereka akan tahu betapa seriusnya kami," tegas Shamkhani dalam wawancara dengan Al Mayadeen TV.

Sementara itu, Wakil Gubernur Teheran Ali Asghar Naserbakht mengatakan bahwa situasi di daerahnya masih bisa dikendalikan. Polisi hingga kini belum meminta bantuan dari pasukan khusus Garda Revolusi.

Hingga kini sudah 450 orang ditangkap di Teheran dan ratusan di kota lainnya. Sekitar 90% di antara mereka yang ditahan berusia di bawah 25 tahun. Data itu menunjukkan rasa frustasi di antara pemuda oleh situasi ekonomi dan terkekangnya kebebasan sosial.

Pihak pengadilan mengatakan bahwa mereka yang ditangkap akan segera diadili, termasuk pemimpin demonstran yang mendapat dakwaan moharebeh, yang berarti berperang melawan Tuhan. Sehingga bisa dihukum mati.

Rangkaian unjuk rasa yang dimulai pada pekan lalu berawal dari protes terhadap kenaikan harga-harga dan korupsi. Namun demonstrasi itu kemudian berkembang dan meluas menjadi perlawanan politik.

Kemarahan para demonstran sebagian ditujukan untuk para ulama yang telah berkuasa sejak 1979, termasuk Pemimpin Agung Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagian di antara mereka juga memprotes keterlibatan pemerintah dalam perang di luar negeri, seperti Suriah dan Irak, yang dinilai hanya menghabiskan anggaran negara sehingga lapangan kerja di dalam negeri tidak tersedia. Sekitar 29% pemuda Iran kini menganggur.

Juru bicara pemerintah Mohammad Baqer Nobakht mengatakan bahwa para demonstran dan pasukan pengamanan harus menaati hukum. "Rakyat berhak menyuarakan protes, namun ada perbedaan besar antara demonstrasi dan kerusuhan. Mereka yang membubarkan kerusuhan juga harus bertindak sesuai hukum," tuturnya.

Berbagai laporan memang menunjukkan banyak kerusuhan di berbagai kota. Ada bentrok antara pengunjuk rasa dan polisi, sementara di kota lain demonstran dikabarkan membakar empat masjid. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya