Pengamat Sebut Trump Bawa AS Jadi Negara Otoriter

Fajar Nugraha
22/12/2017 21:36
Pengamat Sebut Trump Bawa AS Jadi Negara Otoriter
(AP Photo/Manuel Balce Ceneta)

AMERIKA Serikat menghadapi perlawanan dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait Yerusalem. AS pun kalah dalam pemungutan suara Kamis (21/12) waktu setempat.

Sebelum pemungutan suara dilakukan, Presiden AS Donald Trump mengancam negara mana pun yang mendukung resolusi dari PBB akan merasakan akibatnya. Hal ini termasuk dihentikannya bantuan AS kepada negara-negara yang mendukung resolusi mengenai status Yerusalem tersebut.

Menurut Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, Trump juga kehilangan legitimasi atas pengumuman untuk memindahkan Kedubesnya dari Tel Aviv ke Yerusalem.

"Bahkan Trump telah membawa AS dari kampiun demokrasi menjadi negara yang otoriter dengan upaya mengancam negara-negara di PBB untuk tidak menyetujui resolusi Sidang Majelis Umum PBB," ujar Hikmahanto dalam keterangan tertulis yang diterima Medcom.id, Jumat (22/12).

"Kepemimpinan AS atas dunia akan terus dipertanyakan bahkan akan dicemooh oleh dunia. Mayoritas negara dunia tidak lagi takut dengan ancaman AS," tuturnya.

Bagi Hikmahanto tidak lagi ada istilah kuat adalah benar (might is right) karena dunia mampu menentang kemauan Trump yang memanfaatkan kursi kepresidenannya.

Saat ini dunia perlu merumuskan apa tindakan selanjutnya atas AS dan Israel pascaresolusi Majelis Umum PBB. Ada dua tindakan yang mungkin dilakukan, yakni pertama, berbagai pemimpin dan tokoh dunia menyerukan agar mau AS tunduk pada resolusi MU PBB karena suara mayoritas dunia. Sebagai kampiun demokrasi sudah sewajarnya bila AS mau mendengar suara mayoritas.

"Kedua, atas dasar perdamaian dunia pemimpin dan tokoh dunia menghimbau kepada para politisi AS, termasuk para mantan Presiden AS untuk mengingatkan Trump pengaruh resolusi PBB terhadap kepemimpinan AS di dunia," tegasnya.

Di mata Hikmahanto, sudah saatnya bagi rakyat AS, politisi dan kaum elite AS agar mereka bersuara dan mengambil tindakan konstitusional terhadap Trump agar AS tidak terjerembab lebih dalam atas manuver-manuvernya. Berbagai manuvernya bukannya membuat 'America Great Again tetapi Make America Worst' atau 'Menjadikan Amerika Hebat tetapi Menjadikan Amerika Buruk'.

Dalam voting di sidang majelis itu, 128 negara mendukung resolusi sementara 35 negara menyatakan abstain dan sembilan lainnya menolak. Seperti diberitakan, sistem pemungutan suara dalam Sidang Majelis Umum PBB ini bersifat darurat dan jarang sekali terjadi. (Medcom/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya