Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEKALAHAN Amerika Serikat (AS) yang sangat besar di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mungkin telah membuat malu. Namun klaim apapun bahwa Washington telah kehilangan perannya sebagai mediator perdamaian Timur Tengah, akan terbukti terlalu dini.
Mayoritas besar negara anggota PBB, termasuk sekutu dekat AS dan penerima bantuan utama, memberikan suara ‘Ya’, Kamis (21/12), untuk resolusi yang menolak pengakuan sepihak Presiden Donald Trump atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel.
Dengan menggarisbawahi pentingnya kekalahan tersebut, Duta Besar AS untuk PBB Nikki Haley telah memperingatkan Trump akan mengamati dan akan mencatat nama-nama negara yang mengecewakan negeri Paman Sam.
Lebih jauh, menjelang pemungutan suara di Majelis Umum PBB, Trump mengancam akan memotong bantuan luar negeri AS untuk negara-negara yang memberikan suara kontra AS.
Tapi- sekali lagi- kebijakan American First Trump menghasilkan America Alone. Sehingga sejumlah petinggi dan warga Palestina bersuara bahwa AS tidak dapat dan tak pantas lagi bertindak sebagai mediator perdamaian.
Wakil Presiden Mike Pence menunda jadwal kunjungan ke kawasan Timur Tengah pekan ini, setelah pemimpin Kristen Palestina dan Arab menyatakan keengganan untuk menemuinya. Mereka ogah ketemu Pence sebagai bentuk protes klaim sepihak Trump atas Jerusalem.
Jadi, mungkin Washington harus menjaga agar bubuknya tetap kering selama beberapa pekan karena debu mengendap, beberapa ahli mengakui.
Tapi jika ada kesepakatan damai yang panjang dan sulit dipahami antara Israel dan Palestina, hanya satu broker yang bisa memberikannya.
"Ada naik dan turun sebelum masalah ini," kata David Makovsky, seorang veteran proses perdamaian dan senior fellow pada Washington Institute for Near East Policy.
"Jika saya memiliki satu dolar setiap kali orang mengatakan 'Oh, sudah berakhir sekarang, AS bukan brokernya ...," ujarnya dengan ironi.
Dan Shapiro, yang menjabat sebagai duta besar untuk Israel era mantan Presiden Barack Obama, menolak pandangan bahwa pemungutan suara tersebut sebagai ‘sirkus PBB yang menyedihkan’ dan mendesak Washington untuk kembali fokus pada tujuannya.
"Apa strategi AS untuk mengakhiri konflik, mencapai dua negara, menghindari kenyataan binasional permanen? Atau setidaknya mempertahankan tujuan tersebut tetap hidup?" tuntutnya, di Twitter.
Strategi itu harus diungkap dalam beberapa pekan atau bulan mendatang, saat menantu Trump yang juga utusan khusus untuk perdamaian Timur Tengah Jared Kushner mengungkapkan cetak biru yang sangat diantisipasi.
Hampir sejak Trump resmi memerintah, Kushner dan rekannya, Jason Greenblatt, telah bolak-balik antara Gedung Putih dan kawasan Timur Tengah untuk menyusun rencana.
Kushner dan Greenblatt awalnya membuat kesan yang baik pada para pemimpin di kawasan, meskipun ada kekhawatiran Palestina bahwa Trump bersimpati pada pembangunan permukiman Israel di tanah Palestina yang diduduki.
Namun keputusan sepihak AS untuk mengakui Jerusalem sebagai ibu kota Israel tanpa dua pihak menyetujui pembagian kedaulatan di kota suci tersebut, membuat orang-orang Palestina marah.
Pertemuan yang direncanakan dengan Pence dibatalkan dan, di PBB pada Kamis (21/12), utusan Palestina merasakan kemenangan pahit saat dunia bersatu untuk mengutuk posisi Trump. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved