DENGAN menganalisis citra satelit, tim ilmuwan Universitas Wuhan, Tiongkok, menemukan, sejak Maret 2011 yang merupakan awal perang di Suriah, jumlah cahaya lampu yang terlihat di wilayah Suriah pada malam hari menurun hingga 83%.
Gambar-gambar satelit yang menunjukkan perbandingan cahaya lampu di Suriah pada Maret 2011 dan Februari 2015 dirilis pada Rabu (11/3) oleh koalisi With Syria yang terdiri dari 100 organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia.
Ilmuwan Xi Li yang memimpin penelitian mengaku sangat terkejut dengan temuan itu.
"Semakin banyak cahaya yang hilang berarti semakin banyak pengungsi, semakin banyak infrastruktur yang rusak, dan semakin besar jumlah pema-daman listrik," imbuhnya.
Citra satelit, menurut Xi, merupakan sumber data paling objektif untuk menggambarkan kehancuran Suriah secara nasional.
"Gambar-gambar itu diambil dari jarak sekitar 805 kilometer di atas permukaan bumi. Dengan citra-citra itu, kita dapat memahami penderitaan dan rasa takut yang dialami warga Suriah setiap harinya saat negara mereka hancur," papar Xi.
Dari perbandingan gambar satelit, Kota Aleppo yang hancur karena kerap menjadi lokasi bentrokan antara pasukan pemerintah pimpinan Presiden Bashar al-Assad dan kelompok pemberontak menjadi kota dengan kondisi terparah.
Di kota yang sebelumnya merupakan pusat perdagangan Suriah itu, 97% cahaya hilang dalam 4 tahun terakhir.
"Suriah tengah memasuki masa kegelapan baik secara tersirat maupun tersurat," ujar mantan Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband yang kini menjabat presiden International Rescue Committee, yakni organisasi nonpemerintah untuk bantuan kemanusiaan yang termasuk koalisi With Syria.
Adapun mantan Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright menyerukan peningkatan komitmen dari komunitas internasional untuk mengakhiri perang di Suriah yang memasuki tahun kelima.
Dia menuding Suriah melecehkan resolusi PBB.
"Apa yang terjadi di Suriah adalah bencana hak asasi dan bencana kemanusiaan tingkat utama," serunya.