BPS : Ekspor ke Amerika dan Israel Jangan Terganggu

Tesa Oktiana Surbakti
10/12/2017 09:44
BPS : Ekspor ke Amerika dan Israel Jangan Terganggu
(ANTARA/Muhammad Adimaja)

PEMERINTAH Indonesia berang dengan sikap Amerika Serikat yang mengakui Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel secara sepihak. Gejolak eksternal tersebut diharapkan tidak menyurutkan kinerja ekspor nasional. Mengingat Negeri Paman Sam merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia.

"Sekarang memang belum kelihatan dampaknya. Harapannya enggak (terdapat pengaruh). Apalagi pemerintah upayakan genjot ekspor ke sana (Amerika Serikat)," ujar Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti dalam workshop media di Bogor, Sabtu (9/12).

Mengacu neraca perdagangan per Oktober 2017, Indonesia mengalami surplus US$0,90 miliar. Hal itu disebabkan kenaikan kinerja ekspor 3,62 persen dari bulan sebelumnya menjadi US$15,09 miliar. Dalam hal ini, ekspor ke Amerika Serikat berkontribusi sebesar Rp1,39 miliar terhadap struktur ekspor nasional.

Selain Negeri Paman Sam, dua negara tujuan ekspor utama lainnya ialah Tiongkok dan Jepang. Yunita mengimbau pemerintah jangan sampai menutup diri imbas konflik internal. Apalagi melakukan boikot ekspor ke Amerika Serikat.

Pasalnya, hal itu berpotensi mengganggu kinerja ekspor nasional. Kinerja ekspor cukup penting sebagai salah satu motor penggerak Produk Domestik Bruto (PDB). Di satu sisi, Indonesia masih bergantung terhadap importasi sejumlah komoditas dari Amerika Serikat. Misalnya, jagung dan kedelai.

"Jangan sampai menutup diri gara-gara konflik di luar. Itu akan mengurangi (kinerja) ekspor, gak perlu boikot-boikotan. Kita sendiri kan surplus ke Amerika Serikat dan ada beberapa komoditas seperti kedelai dan jagung yang masih diimpor dari sana. Semoga hal politis tidak mempengaruhi perdagangan internasional," imbuhnya.

Tidak hanya Amerika Serikat, Indonesia dikatakannya tetap perlu menjaga kinerja ekspor dengan Israel. Berdasarkan data BPS, komoditas unggulan Indonesia yang masuk ke negara tersebut ialah minyak sayur, karet, kokoa, kertas hingga alas kaki.

Nilai ekspor ke Israel per Oktober 2017 tercatat US$ 100,6 juta. Sementara itu, komoditas impor dari Israel yang masuk ke Indonesia meliputi komponen mesin pembangkit listrik, komponen pesawat dan helikopter hingga minyak pelumas. Nilai impor Israel pada Oktober 2017 sebesar US$ 102,9 juta.

"Potensi ekspor ke Israel juga cukup besar. Semestinya harus dijaga," lanjut Yunita.

Selain itu, dia menekankan urgensi perluasan pasar ekspor ke negara-negara non tradisional. Meski nilai ekspor ke negara tujuan utama terbilang besar, namun pada satu titik akan mengalami kejenuhan. Dalam struktur pasar ekspor Indonesia, sejumlah negara tujuan yang mendominasi ialah Amerika Serikat, Tiongkok, India dan Jepang. Adapun pasar non tradisional yang dapat disasar seperti Afrika, Bangladesh, Iran dan Mesir.

"Coba ekspansi ke negara-negara tujuan baru untuk genjot ekspor. Beberapa negara (tujuan utama) sudah mulai jenuh. Harus bisa membaca peluang negara mana yang bisa dimasukan ekspor dari Indonesia," tandasnya. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya