PBB Khawatirkan Penyebaran HIV di Mesir

Anastasia Arvirianty/AP
04/12/2017 19:55
PBB Khawatirkan Penyebaran HIV di Mesir
(Ilustrasi)

PERSATUAN Bangsa Bangsa (PBB) menyuarakan kekhawatiran akan penyebaran HIV di Mesir.

Pasalnya, jumlah kasus baru tumbuh hingga 40% per tahun, dan upaya untuk memerangi epidemi terhambat oleh stigma sosial serta kurangnya dana untuk mengatasi krisis tersebut.

"Virus yang menyebabkan AIDS itu menginfeksi lebih banyak remaja dibanding kelompok usia lainnya," kata Ahmed Khamis dari Badan AIDS PBB (UNAIDS), Senin (4/12).

Mesir, yang menampung sekitar 95 juta orang, hanya berada di belakang Iran, Sudan dan Somalia di Timur Tengah karena tingkat epidemi ini menyebar. Menurut angka PBB di Mesir, pasien sering di penjara dengan tuduhan palsu dan dikucilkan oleh masyarakat.

Penyakit ini terkait dengan homoseksualitas, yang tidak secara eksplisit ilegal, namun secara luas dipandang sebagai pelanggaran terhadap agama dan alam di negara berpenduduk mayoritas Muslim yang konservatif.

"Ada kenaikan 25%-30% dalam insiden setiap tahun. Ini mengkhawatirkan kami karena pertumbuhan epidemi dan penghentian perhatian dari donor dalam pendanaan," ujar Khamis.

Perkiraan jumlah orang yang hidup dengan HIV di Mesir berbeda-beda. UNAIDS mengatakan ada lebih dari 11.000 kasus, sementara Kementerian Kesehatan negara tersebut memperkirakan jumlahnya sekitar 7.000 orang.

"Baru-baru ini kami telah melihat orang-orang dari kelompok usia jauh lebih muda yang terinfeksi virus ini. Ada risiko yang lebih tinggi sekarang untuk remaja dan remaja daripada di masa lalu," imbuh Khamis.

Lebih lanjut ia mengatakan, "Kami tidak memiliki jumlah pasti, tapi inilah bukti yang kami lihat di lapangan."

Ia menjelaskan bahwa kekurangan dana menghambat kapasitas Mesir untuk menghasilkan angka yang tepat. Pejabat UNAIDS menyampaikan, pasien yang memerlukan intervensi bedah seringkali tidak dapat mengakses layanan kesehatan dasar di rumah sakit karena stigma terkait.

Virus ini bisa menyebar melalui kontak seksual, serta jarum atau jarum suntik yang terkontaminasi, dan transfusi darah. Hal ini juga dapat ditularkan dari wanita yang terinfeksi ke bayi mereka saat lahir atau melalui menyusui. Tapi di Mesir, virus ini banyak dikaitkan dengan homoseksualitas, yang dilihat oleh banyak orang Mesir sebagai pilihan gaya hidup.

Dalam sebuah konferensi baru-baru ini tentang AIDS, cendekiawan dan ulama Islam Ali al-Jifri berbicara tentang stigma dan diskriminasi seputar pasien HIV dan AIDS.

"Seseorang yang didiagnosis dengan HIV adalah manusia. Kita seharusnya tidak mempertanyakan diagnosis mereka," tuturnya kepada konferensi tersebut.

Seorang pendeta Kristen Bolous Soror mengatakan kepada konferensi tersebut bahwa orang Mesir harus menerima orang lain, tanpa mempedulikan status HIV mereka.

Digerogoti oleh masyarakat, tidak biasa bagi pasien untuk merenungkan bunuh diri. Ahmed, 40, adalah salah satunya. Dia telah berusaha untuk mendapatkan status suaka di AS karena telah kehilangan harapan di masa depan di Mesir.

"Saya tidak ingin menjalani hidup yang selalu merasa diikat dan di penjara," tuturnya kepada terapisnya dalam sebuah sesi. Karena khawatir akan stigma lebih lanjut, dia meminta agar diidentifikasi hanya dengan nama depannya.

Dalam sebuah kesaksian anonim yang diberikan kepada UNAIDS, seorang wanita mengatakan bahwa dia terinfeksi oleh almarhum suaminya dan kemudian merasa sulit untuk tinggal di masyarakat yang menolak orang yang membawa virus tersebut.

Dia dipukuli dan ditolak oleh keluarganya sebagai warisan yang dia dan anak-anaknya diberi hak secara hukum saat suaminya meninggal. Ketika mencoba memulai hidup baru dengan anak-anaknya di lingkungan yang berbeda, mertuanya memastikan tetangga barunya mengetahui kondisinya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya