Bertemu Pengungsi Rohingya, Paus Fransiskus Menitikkan Air Mata

Anastasia Arvirianty/AFP
03/12/2017 19:54
Bertemu Pengungsi Rohingya, Paus Fransiskus Menitikkan Air Mata
(AFP/POOL/Andrew Medichini)

PENDERITAAN para pengungsi Rohingya memang mengundang kesedihan mendalam, termasuk bagi Paus Fransiskus. Ia menangis ketika mendengar dan melihat sendiri bagaimana penderitaan pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Pertemuan dengan para pengungsi Rohingya tersebut adalah sikap solidaritas yang sangat simbolik dengan minoritas Muslim, yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar. Pemimpin umat Katolik di dunia tersebut mengatakan, ia juga menangis.

"Saya tahu bahwa saya akan bertemu dengan orang-orang Rohingya, tapi saya tidak tahu di mana dan bagaimana, bagi saya itu adalah salah satu kondisi perjalanan," ujar Paus Fransiskus di dalam pesawat ketika memberikan keterangan kepada para wartawan saat perjalanan menuju Roma, Minggu (3/12).

Dalam kunjungannya yang pertama kali ini, Paus telah menempuh jalur diplomatik selama empat hari di Myanmar, menghindari referensi langsung ke Rohingya di depan umum, sambil meminta para pemimpin Buddha untuk mengatasi prasangka dan kebencian.

Di Bangladesh, dia menangani masalah tersebut, bertemu dengan sekelompok pengungsi Rohingya dari kamp-kamp kumuh di Bangladesh selatan dalam sebuah pertemuan emosional di Dhaka.

"Saya berkata pada diri sendiri, bahwa saya tidak bisa pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada mereka. Saya menangis, saya mencoba melakukannya dengan cara yang tidak bisa dilihat. Mereka juga menangis," tutur Paus.

Paus memberitahu Rohingya, "Atas nama semua orang yang telah menganiaya Anda, yang telah melukai Anda, dalam menghadapi ketidakpedulian dunia, saya meminta pengampunan Anda."

Sri Paus merujuk pada pengungsi tersebut sebagai Rohingya, dengan menggunakan istilah tersebut untuk pertama kalinya dalam tur di Bangladesh setelah Uskup Aagung Yangon menasihatinya bahwa melakukan hal itu di Myanmar, dapat mengobarkan ketegangan dan membahayakan orang Kristen.

Kata itu secara politis sensitif di sebagian besar Myanmar, karena banyak orang menganggap Rohingya sebagai kelompok etnis yang berbeda, bukan hanya mereka yang berpindah dari Bangladesh. Ia menyebut mereka sebagai Rohingya, sebuah istilah yang tidak dapat diterima banyak orang di Myanmar, di mana mereka dicerca karena dianggap sebagai imigran gelap Bengali dan bukan sebagai kelompok etnis yang berbeda.

"Jika saya menggunakan kata tersebut selama pidato resmi, saya akan membanting pintu dan keluar. Mereka sudah tahu apa yang saya pikirkan. Bagi saya hal yang paling penting adalah pesan ini berhasil disampaikan," tegas Paus.

Benar saja, media sosial Myanmar marah setelah Paus menggunakan kata Rohingya itu.

"Dia harus menjadi salesman atau broker karena menggunakan kata-kata yang berbeda meskipun dia adalah seorang pemimpin agama," kata seorang pengguna Facebook bernama Soe Soe.

"Paus adalah orang suci, tapi dia mengatakan sesuatu di sini (di Myanmar) dan dia mengatakan berbeda di negara lain," tambah pengguna Facebook lainnya Ye Linn Maung.

"Dia harus mengatakan hal yang sama jika dia mencintai kebenaran."

Gereja Katolik Myanmar telah menyarankan Paus Fransiskus untuk tidak menyimpang ke dalam isu pembekuan status Rohingya di Myanmar. Jika tidak, ia akan memperburuk ketegangan dan orang-orang Kristen yang terancam punah.

"Itu berarti ia menghormati orang Myanmar," tuturnya. "Ia bahkan tidak sering menggunakan kata itu di Bangladesh, saya pikir ia pernah mengatakannya sekali, hanya untuk menghibur organisasi hak asasi manusia."

Kendati demikian, Paus mengatakan bahwa dirinya sangat puas dengan pertemuannya di Myanmar dan mengisyaratkan bahwa ia mengungkapkan pendapatnya jauh lebih bebas dalam percakapan pribadi dengan pemimpin negara tersebut, daripada pada penampilan publiknya.

Lebih dari 620.000 orang Rohingya telah menyeberang ke Bangladesh, sejak sebuah serangan militan terhadap pos polisi pada akhir Agustus memicu sebuah tindakan keras yang mematikan oleh militer Myanmar.

Mereka telah memberikan penjelasan yang konsisten mengenai pemerkosaan massal, pembunuhan dan desa yang sengaja dibakar oleh tentara dan milisi Buddhis.

Kedua negara bulan lalu menandatangani sebuah kesepakatan untuk mulai memulangkan pengungsi ke Myanmar, namun kelompok HAM mengatakan bahwa mereka khawatir rencana untuk menempatkan mereka di kamp-kamp jauh dari bekas rumah mereka, yang mayoritas di antaranya telah hancur. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya