Zimbabwe Menunggu Pemimpin Baru

Irene Harty/AFP
22/11/2017 19:30
Zimbabwe Menunggu Pemimpin Baru
(AP)

WARGA Zimbabwe menunggu penunjukkan pemimpin baru mereka pada Rabu (22/11), setelah Presiden Robert Mugabe yang digulingkan mengundurkan diri.

Mundurnya Mugabe secara tiba-tiba ini menjadi puncak kemelut di negeri itu, setelah selama 37 tahun pemerintahan dijalankan secara otoriter.

Masa jabatan Mugabe berakhir dalam sebuah pengumuman di sidang gabungan khusus parlemen, untuk mengadili laki-laki 93 tahun yang telah mendominasi setiap aspek kehidupan masyarakat Zimbabwe selama beberapa dekade.

"Saya, Robert Gabriel Mugabe ... dengan ini secara resmi mengajukan pengunduran diri saya ... dengan segera. Keputusan saya untuk mengundurkan diri secara sukarela," kata surat yang dibacakan oleh juru bicara parlemen Jacob Mudenda.

Alasan pengunduran dalam surat tersebut adalah keprihatinannya untuk kesejahteraan rakyat Zimbabwe, dan keinginan pribadi Mugabe yang memastikan perpindahan kekuasaan berlangsung mulus, damai, dan tanpa kekerasan.

Analis di Institut Studi Keamanan Pretoria Derek Matyszak mengatakan, "Ketika dia melihat jumlah pemilih (anggota parlemen), dia mungkin menyadari bahwa dia akan lebih baik melompat sebelum didorong."

Pengunduran diri tersebut memiliki tenggat waktu seminggu setelah militer menguasai keadaan, dan puluhan ribu orang Zimbabwe turun ke jalan untuk pertama kali melawan Mugabe.

Di jalanan, kabar tersebut menimbulkan perayaan liar pada Selasa (21/11) malam dengan kerumunan orang berkumpul membawa bendera nasional, dan mengapresiasi Jenderal Constantino Chiwenga.

Suara klakson mobil serta sorak sorai gembira diiringi tarian berkumandang.

Jenderal Chiwenga pun meminta warga Zimbabwe untuk 'melakukan pengekangan maksimal dan mematuhi hukum dan ketertiban sepenuhnya'.

Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan, "Pengunduran diri memberi Zimbabwe 'kesempatan untuk membentuk jalan baru yang bebas dari penindasan yang menjadi ciri (peraturan Mugabe)."

Kepala Diplomatik Uni Eropa Federica Mogherini meminta solusi yang menghormati aspirasi rakyat Zimbabwe, untuk masa depan yang lebih sejahtera dan demokratis.

Kedutaan Besar Amerika Serikat di Harare menggambarkannya sebagai momen bersejarah bagi Zimbabwe.

Wakil Presiden Zimbabwe Emmerson Mnangagwa, yang telah dipecat pada Senin (6/11), akan kembali ke negara tersebut pada Rabu (22/11) untuk mengambil alih kekuasaan.

Menjelang kedatangannya, media pemerintah menyebut pelatikan Mnangagwa sebagai presiden akan dilakukan pada Jumat (23/11).

"Mnangagwa ... akan kembali dalam 24 jam ke depan, dan dia akan menjadi orang yang akan dilantik menjadi presiden sementara selama 90 hari," kata Simon Khaya Moyo, juru bicara partai yang berkuasa ZANU-PF, Selasa (21/11).

Namun para pengamat meragukan citra Mnangagwa. Terlebih dia tergolong sebagai orang garis keras yang kejam dengan pelanggaran bertahun-tahun atas kekerasan yang disponsori negara.

Dulunya, Mnangagwa adalah sekutu penting Mugabe, tapi juga menjadi saingan utama istri Mugabe, Grace dalam pertempuran suksesi yang meletus secara terbuka dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara Ketua Komisi Uni Afrika Moussa Faki Mahamat menyambut baik keputusan Mugabe untuk mundur sebagai presiden Zimbabwe

"Presiden Mugabe akan dikenang sebagai pejuang pembebasan pan-Africanist yang tak kenal takut, dan ayah dari negara Zimbabwe yang independen," tuturnya.

Meskipun ada intervensi militer, Uni Afrika tidak melihat penggulingan Mugabe sebagai kudeta, tapi keinginan sah Zimbabwe untuk transisi damai.

"Keputusan Presiden Mugabe untuk mengundurkan diri membuka jalan bagi proses transisi, dimiliki, dan dipimpin oleh rakyat kedaulatan Zimbabwe," tukasnya. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya