Kapolri: Angka Laka Lantas Indonesia Termasuk Tertinggi di ASEAN

Antara
15/11/2017 19:47
Kapolri: Angka Laka Lantas Indonesia Termasuk Tertinggi di ASEAN
(ANTARA)

KEPOLISIAN Kepolisian Indonesia, Jenderal Polisi Tito Karnavian, mengatakan, tingkat kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Indonesia masih tinggi di antara negara-negara ASEAN.

"Masalah lalu lintas yang paling tinggi adalah kecelakaan di jalan. Korbannya lebih banyak dari jumlah korban kasus terorisme," kata Kapolri saat membuka Forum Polantas ASEAN 2017 yang bertajuk 'Kerja Sama Global untuk Menciptakan Keselamatan Berlalu Lintas di Negara-Negara ASEAN', di Jakarta, Rabu (15/11).

Tito mengatakan, enam negara yang paling tinggi angka kecelakaan lalu lintasnya ialah Thailand, Vietnam, Malaysia, Indonesia, Filipina, dan Laos.

"Angka kecelakaan lalu lintas di Malaysia dan Thailand mencapai lima kali angka kecelakaan di Singapura," ungkapnya.

Sementara Brunei Darussalam dan Singapura tercatat memiliki tingkat kecelakaan lalu lintas terendah dalam lingkup ASEAN.

"Hanya Brunei dan Singapura yang memiliki jalur lalu lintas paling baik dan angka kecelakaan terendah di ASEAN. Selamat kepada Brunei dan Singapura," ujarnya.

Dia menambahkan, tingkat kecelakaan lalu lintas di Singapura tercatat hampir mendekati negara-negara dengan sistem lalu lintas terbaik di dunia yakni Belanda dan Inggris.

Sementara, Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri, Inspektur Jenderal Polisi Royke Lumowa, mengatakan, jumlah korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia cukup besar yakni mencapai 28.000-30.000 jiwa per tahun.

"Kecelakaan lalu lintas di Indonesia termasuk tinggi, rangking 2 sampai 3 di bawah, dalam lingkup ASEAN. Angka kecelakaan ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah korban kasus terorisme, bencana tsunami, bencana banjir," tuturnya.

Digelarnya Forum Polantas ASEAN (ATPF) 2017 ini sebagai ajang saling berbagi terkait penegakan hukum lalu lintas, keselamatan berkendara, memperbaiki sistem hukum di wilayah ASEAN serta menjalin kerja sama antarkepolisian lalu lintas negara-negara ASEAN untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban lalu lintas di negara masing-masing.

Dalam forum ATPF, kata Lumowa, Indonesia akan belajar dari negara-negara yang memiliki angka kecelakaan lalu lintas yang rendah.
"Kerja sama, berbagi pengalaman satu sama lain yang muaranya adalah keselamatan lalu lintas," katanya.

Ia mencontohkan di Singapura, diberlakukan penegakkan hukum yang ketat dan ketersediaan infrastruktur yang memadai menjadikan negara tersebut memiliki tingkat kecelakaan lalu lintas yang rendah.

Pihaknya pun bercita-cita agar sistem pengawasan lalu lintas di Indonesia dikerjakan dengan memanfaatkan teknologi. Sejumlah pelayanan bidang lalu lintas yang telah diterapkan di Indonesia adalah layanan SIM daring, layanan Samsat elektronik di Pulau Jawa dan Bali, serta penerapan aplikasi Electronic Registration and Identification (ERI).

"Di negara maju, polisi jarang ada di jalan, tapi pengawasan menggunakan teknologi, CCTV, speeding camera. Ke depan Polantas Indonesia tidak akan manual lagi, pelan-pelan akan berangsur seperti itu," imbuhnya.

Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum Polantas ASEAN (ATPF) 2017. Forum ATPF yang ke-2 ini digelar di Jakarta dan Bali sejak 14-18 November 2018.

Forum ini dihadiri para Kepala Polantas delegasi dari sejumlah negara ASEAN yakni Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, dan Vietnam. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya