ASEAN Lawan Terorisme

Rudy Polycarpus
14/11/2017 05:40
ASEAN Lawan Terorisme
(ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)

KTT Ke-31 ASEAN yang berlangsung di Manila, Filipina, menyoroti soal terorisme, radikalisme, dan ekstremisme karena berkaitan dengan keamanan di kawasan Asia Tenggara.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam pidato pembukaan KTT yang berlangsung di Philippines International Convention Center Manila, kemarin, menyeru kepada pemimpin negara-negara ASEAN dan mitra untuk bertindak sungguh-sungguh melawan terorisme yang mengancam perdamaian dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara.

"Terorisme dan ekstremisme membahayakan perdamaian, stabilitas, dan keamanan kawasan. Pembajakan dan perampokan mengganggu stabilitas pertumbuhan maupun perdagangan regional dan global," kata Duterte.

Ia memaparkan pendudukan Kota Marawi selama lima bulan oleh kelompok teroris yang terinspirasi IS dan berusaha merebut kota berpenduduk mayoritas muslim itu. Kelompok teroris berupaya membangun sebuah kubu di Filipina dan di kawasan Asia Tenggara.

Setelah pengeboman tanpa henti oleh tentara Filipina, pendudukan Marawi oleh kelompok teroris berakhir pada 23 Oktober.

Namun, hal itu mengakibatkan sekitar 1.000 orang tewas, kebanyakan teroris dan ratusan ribu warga mengungsi.

Aksi terorisme di Marawi itu, lanjut Duterte, telah menjadikan pusat kepercayaan Islam di Mindanao itu tinggal reruntuhan.

"Kami sekarang dalam proses membantu masyarakat (Marawi) untuk bangkit dan meraih kembali kehidupan mereka."

Krisis kemanusiaan

Presiden RI Joko Widodo di rapat pleno KTT juga mengingatkan pentingnya ASEAN menuntaskan krisis kemanusiaan untuk menjaga stabilitas keamanan dan mencegah munculnya radikalisme.

Jokowi mengajak negara-negara ASEAN tidak berdiam diri terhadap krisis kemanusiaan yang menimpa pengungsi Rohingya.

"Kita semua prihatin dengan krisis kemanusiaan di Rakhine State dan juga paham akan kompleksitas masalah di sana. Namun, kita juga tidak dapat berdiam diri. Kita harus bergerak bersama. Myanmar tidak boleh tinggal (diam). ASEAN juga tidak boleh tinggal diam," ujar Jokowi.

Jokowi menambahkan, pengungsi Rohingnya tidak lagi menjadi keprihatinan kawasan, tetapi juga dunia.

"ASEAN harus bisa memberikan solusi konkret krisis Rakhine. Kita harus buktikan kemampuan kita kepada dunia. Indonesia telah menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada pengungsi Rohingya."

Indonesia mengkritisi beberapa butir pernyataan Penasihat Myanmar Aung San Suu Kyi dalam pidatonya yang bertajuk Report to the People, yaitu repatriation and humanitarian assistance, resettlement and rehabilitation, dan development and durable peace segera diimplementasikan.

"Indonesia berharap pembicaraan antara Bangladesh dan Myanmar mengenai repatriasi segera diselesaikan dan diimplementasikan," ungkap Jokowi.

Akan tetapi, rancangan pernyataan di KTT ASEAN kali ini tidak menyinggung eksodus warga muslim Rohingya dari Negara Bagian Rakhine tersebut.

Salah satu paragraf komunike hanya menyebutkan pentingnya bantuan kemanusiaan bagi korban bencana alam di Vietnam dan korban pertempuran kelompok militan di Filipina serta komunitas yang terdampak di Negara Bagian Rakhine.

Karena prinsip ASEAN yang tidak saling campur tangan urusan dalam negeri setiap negara, masalah Rohingya pun terpinggirkan.

Hari ini, Presiden Jokowi dijadwalkan mengikuti lanjutan KTT ASEAN dengan 10 kegiatan. (Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya