Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
APARAT Kepolisian Filipina menangkap seorang pria berusia 22 tahun asal Medan, Indonesia pada Rabu (1/11) di kota Marawi, Filipina saat pejabat desa menemukannya dan mencoba melarikan diri.
Pria itu dan kelompoknya terlibat dalam serangan bunuh diri pada 2016 yang menewaskan delapan orang di Jakarta, Indonesia dan diklaim oleh Islamic State (IS).
Penangkapan tersebut dilakukan sehari setelah seorang pejuang Maute tewas, dalam baku tembak di daerah pertempuran dan seminggu sejak pemerintah mengumumkan operasi tempur.
Kelompok Tugas Ranao, Wakil Komandan Kolonel Filipina Romeo Brawner menyatakan militan Indonesia itu ditangkap pada pukul 7 pagi waktu setempat di Barangay Loksadatu oleh anggota Tim Aksi Perdamaian Barangay (BPAT).
Brawner mengatakan, tersangka diserahkan ke polisi Marawi dan sekarang sedang diselidiki oleh penyidik militer dan polisi.
Dia menambahkan ada cukup banyak pasukan di Marawi untuk berurusan dengan orang-orang yang diyakini bersembunyi di terowongan di dalam wilayah pertempuran.
Operasi pembersihan di jantung daerah pertempuran akan terus berlanjut dan akan memerlukan waktu karena tim EOD juga dikirim ke KTT ASEAN.
Polisi menambahkan laki-laki itu akan menghadapi tuduhan pemberontakan dan terorisme.
"Dia adalah bagian dari pengepungan dan pertemuan awal di Piagapo," kata Kepala Inspektur Kepolisian Provinsi, John Guyguyon.
Orang Indonesia itu tiba di Filipina tahun lalu atas undangan Ketua IS Filipina di Asia Tenggara Isnilon Hapilon, menurut Guyguyon yang merujuk pada laporan yang diberikan kepada interogator.
Hapilon, yang berada dalam daftar teroris paling dicari pemerintah AS, tewas bulan lalu bersama pemimpin militan Omar Maute.
Militan Indonesia itu merencanakan untuk mengebom kamp militer di Filipina, tapi tidak terjadi karena serangan Marawi.
Pihak berwenang juga mengaku menemukan sebuah senjata, sebuah granat, dan sejumlah uang dalam mata uang Filipina, Indonesia, dan Arab Saudi dari militan tersebut.
Mantan sandera Maute, Lordvin Acopio mengkonfirmasi laporan militer bahwa militan Indonesia termasuk di antara militan asing yang bergabung dalam pertempuran di Marawi.
Sementara itu, Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan BHI Kementerian Luar Negeri RI, Lalu M Iqbal mengaku, belum mendapatkan informasi resmi apapun dari pihak Filipina hingga saat ini.
"Kalau benar ada WNI yang ditangkap seharusnya ada notifikasi kekonsuleran kepada KBRI. Saat ini kami tidak bisa mengkonfirmasi penangkapan tersebut maupun kewarganegaraannya," ungkap Iqbal.
Ratusan pria bersenjata lokal dan asing yang telah berjanji setia kepada IS menyerang Marawi, kota utamaa Islam di Filipina yang beragama Katolik, pada 23 Mei.
Mereka mengambil alih kota tersebut dengan menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved