Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RUSIA memveto sebuah resolusi yang dirancang oleh Amerika Serikat (AS), yang ingin memperpanjang satu tahun penyelidikan terhadap siapa yang berada di balik serangan senjata kimia di Suriah.
Ini adalah kesembilan kalinya Rusia telah menggunakan hak veto di Dewan Keamanan PBB untuk memblokir tindakan yang menargetkan sekutu Suriahnya.
Rusia menolak memperbarui mandat dari salah satu badan PBB, Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW) sebelum mengeluarkan laporan mengenai serangan gas sarin di Khan Sheikhun, yang diperkirakan pada Kamis (26/10).
Setelah Rusia memberikan hak veto tersebut, Duta Besar AS Nikki Haley mengatakan bahwa Moskow 'sekali lagi memihak dengan para diktator dan teroris yang menggunakan senjata ini'.
"Rusia sekali lagi menunjukkan bahwa pihaknya akan melakukan apapun untuk memastikan rezim Assad yang barbar, tidak pernah menghadapi konsekuensi karena terus menggunakan bahan kimia sebagai senjata," tutur Haley dalam sebuah pernyataan.
Inggris, Prancis dan AS telah menuduh pasukan Presiden Bashar al-Assad melakukan serangan 4 April di desa yang dikuasai oposisi tersebut, dan membunuh sejumlah orang, termasuk anak-anak.
Tiongkok dan Kazakhstan abstain dari pemungutan suara, Bolivia bergabung dengan Rusia dengan ikut menentang dan 11 negara lain mendukung mandat tersebut. Adapun, Rusia gagal mengumpulkan cukup banyak dukungan untuk sebuah mosi guna menunda pemungutan suara sampai bulan depan.
Panel tersebut, yang dikenal sebagai Joint Investigative Mechanism (JIM), didirikan oleh Rusia dan AS pada 2015 untuk mengidentifikasi pelaku serangan kimia dalam perang enam tahun Suriah.
Mandatnya diperbaharui tahun lalu oleh dewan, yang harus memutuskan pembaharuan lebih lanjut pada 17 November mendatang.
Duta Besar Rusia Vassily Nebenzia mengatakan, veto tidak berarti bahwa penyelidikan telah ditutup. Dia menambahkan, Moskow akan berusaha untuk mengubah mandat panel untuk memastikan hal tersebut tidak memihak.
"Kami tidak menutup JIM, kami sama sekali tidak mengambil keputusan untuk memperpanjangnya hari ini. Kami akan kembali ke sana," tuturnya.
Inggris, Prancis dan Amerika Serikat sepakat bahwa pemungutan suara lain dapat diadakan dalam beberapa minggu mendatang, untuk memungkinkan JIM melanjutkan pekerjaannya.
Nebenzia menuduh AS dan mitranya mencari pemungutan suara atas tindakan tersebut untuk menjatuhkan dan mencemarkan nama baik Rusia.
"Apa yang terjadi hari ini tidak terlalu menyenangkan. Kami melihat tontonan yang dilatih dengan baik, yang hanya berusaha untuk menunjukkan dan mempermalukan satu negara," ujar Nebenzia.
Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di Moskow, Kementerian Luar Negeri Rusia menegaskan, mereka memiliki hak untuk mempelajari laporan yang akan datang sebelum membuat penilaian dan menuduh AS mencoba untuk memaksakan posisinya.
Sebuah resolusi membutuhkan sembilan suara untuk diadopsi di dewan tersebut, namun lima negara yakni Inggris, Tiongkok, Prancis, Rusia dan AS, dapat melarang adopsi dengan hak veto mereka.
Lebih dari 87 orang tewas dalam serangan gas syaraf di Khan Sheikhun yang menimbulkan kemarahan global, dan mendorong AS untuk menembakkan rudal jelajah di sebuah pangkalan udara Suriah.
Bulan lalu penyelidik kejahatan perang PBB mengatakan, mereka memiliki bukti bahwa angkatan udara Suriah berada di balik serangan tersebut, meskipun mendapat bantahan berulang dari Damaskus.
Rusia berpendapat bahwa serangan sarin tersebut kemungkinan mbesar disebabkan oleh sebuah bom yang diluncurkan langsung di lapangan, bukan oleh serangan udara Suriah seperti yang dituduhkan pihak Barat.
Sementara OPCW telah menetapkan bahwa sarin digunakan dalam serangan April, tidak ada mandat untuk menyalahkan. Sehingga membiarkan keputusan tersebut diberikan pada JIM. OPCW sedang mengkaji lebih dari 60 kasus penggunaan senjata kimia yang diduga dilakukan di Suriah, termasuk serangan sarin yang baru-baru ini ditemukan di sebuah desa yang dikuasai oposisi pada 30 Maret.
Adapun, JIM telah menyimpulkan bahwa pasukan pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan klorin di tiga desa pada 2014 dan 2015, dan kelompok Negara Islam (IS) menggunakan gas mustard pada 2015. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved