Marawi Bebas Teroris, Bentrok Berlanjut

Irene Harty/AFP
17/10/2017 19:56
Marawi Bebas Teroris, Bentrok Berlanjut
(AFP)

PRESIDEN Filipina Rodrigo Duterte mengumumkan Marawi telah bebas dari teroris.

Dalam keadaan basah kuyup, para tentara yang dipimpin Duterte merayakan kemenangan sehari setelah kematian pemimpin kelompok Negara Islam (IS) di Asia Tenggara Isnilon Hapilon.

"Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, dengan ini saya menyatakan Marawi dibebaskan dari pengaruh teroris yang menjadi tanda dimulainya rehabilitasi. Saya berjanji ini tidak akan pernah terjadi lagi," katanya sambil memberi hormat kepada para tentara, Selasa (17/10).

Duterte berdiri di panggung gimnasium dengan atap yang hancur dekat terpal yang menunjukkan foto besar militan yang tewas. Setelah dia pergi, tentara mengambil alih depan bangunan yang dibom, sedangkan yang lain memasang bendera Filipina di atas tank.

Militer Filipina juga mengungkapkan bentrokan sejak lima bulan lalu di kota selatan Filipina itu belum berakhir, dan mewaspadai serangan balasan dari simpatisan militan.

Kepala Staf Militer Filipina Jenderal Eduardo Ano menjelaskan, pertempuran melawan 20 sampai 30 gerilyawan yang tersisa terus berlanjut dengan operasi sesuai titik-titik tertentu.

"Jumlah kecil musuh yang tersisa sekarang dapat dianggap sebagai masalah penegakan hukum dan bukan ancaman serius yang menghambat (rehabilitasi)," sahut Ano.

Tentara terus berupaya menyelamatkan sekitar 20 sandera. Menurut Wakil Komandan Gugus Tugas mengatasi Militan Kolonel Romeo Brawner, "Karena kita tidak dapat benar-benar mengatakan bahwa daerah itu 100% bersih."

Jalan-jalan di Marawi penuh dengan selongsong peluru dan puing-puing senapan mesin, termasuk sebuah van dan lembaran atap rusak yang menumpuk di trotoar.

Militer masih memburu seorang militan Malaysia Mahmud Ahmad.

Pakar terorisme Ahmad Kumar Ramakrishna dari Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam Singapura menduga, jika Mahmud selamat dia berpeluang besar mengambil alih kepemimpinan IS di Filipina selatan.

Mahmud termasuk satu di antara enam sampai delapan pejuang asing di zona pertempuran dengan sekitar 60 sampai 80 bangunan berdiri.

"Mahmud tetap menjadi salah satu target bernilai tinggi dalam operasi yang sedang dilakukan," kata juru bicara militer Filipina Mayjen Restituto Padilla.

Mahmud tercatat sebagai dosen universitas di negara asalnya, dan bertugas mengumpulkan dana dari luar negeri untuk para jihadis dan rekrutmen.

Amerika Serikat, sekutu pertahanan Filipina, berjanji untuk mendukung upaya terakhir militer di Marawi.

"Pemerintah AS akan terus bekerja sama dengan Angkatan Bersenjata Filipina dalam tahap akhir operasi ini dan berharap dapat bekerja sama dalam memastikan stabilisasi dan rehabilitasi Marawi," tutur Atase Pers Kedubes AS Molly Koscina.

Filipina selatan telah menjadi tempat bagi kelompok-kelompok ekstrimis yang setia pada IS, termasuk kelompok Abu Sayyaf dan kelompok Maute yang terkenal. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya