Pesan Terakhir Tunai,Misteri Pilot Terurai

Wendy Mehari Utami
11/3/2015 00:00
Pesan Terakhir Tunai,Misteri Pilot Terurai
(AFP / GENT SHKULLAKU)
PESAWAT pengebom Halifax yang diawaki pilot Inggris John Thompson hilang pada Oktober 1944, semasa Perang Dunia II. Nasib Thompson menjadi misteri sejak itu. ''Hari ini kakak saya pulang,'' ucap Dorothy Webster, 93, sembari berurai air mata.

Hari itu, Senin (9/3), Webster menghadiri upacara penghormatan di Kementerian Pertahanan Albania.

Dari Xhemil Cala, 63, warga Albania, Webster menerima sebentuk cincin berikut kotak berisi sepotong serpihan pesawat yang dipiloti Thompson. Dari cincin dan kotak itu, Webster tahu apa yang terjadi pada sang kakak.

Pesawat Halifax milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris yang dipiloti Thompson tengah membawa bantuan untuk pejuang anti-Nazi saat jatuh di area pegunungan dekat Martanesh, 60 km tenggara Ibu Kota Albania, Tirana. Nasib pesawat beserta tujuh krunya tidak ketahuan.

Pada 1960, mendiang Jaho Cala, yakni ayah Xhemil Cala, menemukan potongan jari bercincin ketika sedang memotong kayu di wilayah Gunung Sinoi, 40 km utara Tirana. Pada cincin itu, tertera inisial 'J&J'.

''Ayah juga menemukan beberapa potongan pesawat. Namun, ayah menyimpan saja semuanya di rumah. Kami tidak berani melaporkannya karena pemimpin komunis Enver Hoxha berkuasa saat itu,'' imbuh Cala.

Sebelum wafat, sang ayah berpesan kepada dia untuk mencari pemilik cincin itu. Cala pun mengontak Kedutaan Besar Amerika Serikat dan Inggris di Albania. Kedua negara itulah yang membantu membebaskan Albania dari cengkeraman Nazi hanya sebulan setelah Thompson tewas.

Tiga bulan kemudian, Kedubes Inggris memastikan cincin itu milik pilot John Thompson. Kedubes juga langsung menghubungi keluarga Thompson dan keluarga enam kru lainnya. Misteri cincin itu pun tersingkap. Inisial J&J pada cincin rupanya merujuk nama John dan Joyce.

Keduanya menikah baru enam bulan saat Thompson pergi bertugas dan dinyatakan hilang. Joyce, yang menikah lagi dua tahun setelah Thompson hilang, wafat akibat kanker pada 1993 di usia 70 tahun.

Bagi Dorothy Webster, hari ketika dia menerima cincin kawin kakaknya ialah akhir penantian selama 70 tahun.

Sejak Thompson hilang, orangtuanya tidak pernah mengunci rumah mereka di Derbyshire, Inggris, dengan harapan sang pilot pulang sewaktu-waktu.

''Ayah dan ibu selalu menunggu dia pulang. Mereka pasti amat bahagia mengetahui ini semua,'' tuturnya.

Xhemil Cala pun sama bahagianya. ''Saya akan mengunjungi makam ayah dan mengatakan bahwa pesan terakhirnya telah terpenuhi,'' ucap Cala.(AFP/AP/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya