Polisi Jerman Gerebek Rumah Terduga Perencana Teror

Antara
28/8/2017 21:46
Polisi Jerman Gerebek Rumah Terduga Perencana Teror
(AP)

JAKSA federal Jerman memberi polisi lampu hijau untuk melakukan penggerebekan pada Senin (28/8) di rumah dan tempat kerja dua orang, yang dicurigai merencanakan 'kekerasan berat, yang mengancam negara'.

Para tersangka itu mengkhawatirkan kebijakan pengungsi Jerman memiskinkan negara tersebut dan oleh karenanya mulai menimbun makanan dan peledak serta merencanakan serangan, kata kantor jaksa federal dalam pernyataan.

"Para tersangka itu melihat kemelut yang mereka takuti sebagai kesempatan menangkap perwakilan politik sayap kiri dan membunuh mereka," katanya.

Penggerebekan itu akan dilakukan di kawasan bagian timur Mecklenburg-Vorpommern, katanya.

Polisi juga akan melakukan memeriksa orang-orang yang terkait dengan kedua tersangka tersebut, tetapi mereka sendiri bukan tersangka, kantor kejaksaan menambahkan. Para tersangka telah berhubungan dengan orang lain di ruang dialog dalam jaringan.

Kantor kejaksaan tidak segera dapat dihubungi melalui telepon. Masalah pengungsi menjadi kekhawatiran sejumlah negara di Eropa seiring serangkaian aksi kekerasan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa di sejumlah negara, yang diklaim sebagai aksi terorisme yang berafiliasi pada kelompok Negara Islam (IS) yang berbasis di Irak dan Suriah.

Namun, hasil kajian 'Religion Monitor 2017' yang disiarkan pada Kamis (24/8) oleh Bertelsmann Institute menyebutkan penyatuan imigran muslim di Jerman berjalan baik jika dibandingkan dengan belahan lain Eropa, demikian Komisi Bertelsmann Institute, yang berpusat di Guetersloh, memimpin laporan tahunan mengenai keikutsertaan sosial-ekonomi dan politik umat muslim di negara penampung mereka.

Untuk 'Religion Monitor' tahun ini, para peneliti dari University of Duisburg-Essen meneliti 8.500 orang muslim dan non-muslim dari Jerman, Prancis, Inggris, Austria, dan Swiss. Sebanyak 4,7 juta warga muslim di Jerman membaur dengan baik ke dalam pasar tenaga kerja, demikian temuan penulis studi tersebut, sebagaimana dilaporkan Xinhua.

Hanya 5% orang muslim tak bekerja, jika dibandingkan dengan 7% warga non-muslim. Jadi, umat muslim Jerman menempati posisi kedua dalam perbandingan di negeri itu dalam perbedaan orang yang tak bekerja, cuma di belakang Inggris --muslim dan non-muslim, keduanya, empat persen-- dan diikuti oleh Swiss, dengan 6% berbanding 4%, Austria --11% berbanding 3%--, dan Prancis (14% berbanding 8%).

Namun, para penulis kajian tersebut menyatakan umat muslim sangat mungkin berada dalam posisi genting dan/atau berpenghasilan rendah serta juga mengingatkan bahwa jumlah itu tidak mencakup pengungsi yang telah tiba belum lama ini.

Stephan Vopel, juru bicara bagi Bertelsmann Institute, tetapi mengatakan meskipun kemajuan positif secara keseluruhan di Jerman, masih ada kesempatan bagi peningkatan dalam penyatuan orang muslim dalam sistem pendidikan di negeri itu.

Ia memperingatkan bahwa setiap lima orang Jerman bukan muslim, yang disurvei dalam kajian tersebut, menyatakan tidak mau mempunyai tetangga muslim, sementara muslim yang taat sangat mengeluhkan bahwa mereka menghadapi diskriminasi dalam karier mereka. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya