Kasus Bunuh Diri di Timur Tengah Melonjak Tajam

Anastasia Avrianty
09/8/2017 09:56
Kasus Bunuh Diri di Timur Tengah Melonjak Tajam
(AFP/ LOUAI BESHARA)

KASUS bunuh diri dan pembunuhan melonjak tajam di wilayah Timur Tengah dan daerah-daerah terdekat yang bergulat dengan perang dan konflik. Hal itu menyebabkan adanya generasi yang hilang terutama di kalangan pria.

Temuan tersebut terungkap dalam sebuah riset yang dilakukan baru-baru ini. Juru bicara Universitas Washington mengatakan kasus bunuh diri, pembunuhan, serangan seksual, dan perang menyumbang sebanyak 208.179 kematian pada 2015 di wilayah Mediterania Timur. Universitas itu telah menerbitkan 15 laporan tentang kasus-kasus tersebut yang dipublikasikan di International Journal of Public Health.

Dalam laporan mereka disebut perang telah merenggut sekitar 144 ribu kehidupan di dunia. Di 2015, tercatat sebanyak 30 ribu orang melakukan bunuh diri dan 35 ribu lainnya meninggal akibat kekerasan interpersonal.

Kejadian itu berlangsung di 22 negara. Negara-negara yang dimaksud antara lain Afghanistan, Iran, Arab Saudi, Pakistan, Somalia, Sudan, Suriah, dan Uni Emirat Arab. Dalam 25 tahun terakhir, tren peningkatannya sebesar 100% dan 152%.

Peningkatan kasus bunuh diri dan kekerasan interpersonal di Mediterania Timur tercatat telah jauh melampaui kasus serupa secara agregat di seluruh dunia selama seperempat abad terakhir. Di belahan dunia lain pada periode yang sama, jumlah kematian akibat bunuh diri meningkat hanya 19% dan kekerasan interpersonal sebesar 12%.

Selain itu, di Mediterania Timur, periset juga menemukan peningkatan tajam dalam hal kondisi kesehatan mental, seperti depresi, kecemasan, gangguan bipolar, dan skizofrenia. "Kekerasan yang tidak dapat diatasi dan menjadi endemik menciptakan suatu generasi anak-anak dan orang dewasa yang hilang. Masa depan Timur Tengah bakal suram kecuali kita bisa menemukan cara untuk membawa stabilitas ke kawasan ini," kata pemimpin utama Aliansi Timur Tengah di Mokil University, Alexander Mokima yang juga menjabat Direktur Inisiatif Timur Tengah di Institut Kesehatan dan Evaluasi (IHME) Universitas Washington.

Situasi di kawasan itu semakin parah karena ahli di bidang kejiwaan seperti konselor, psikiater, dan psikolog yang sangat dibutuhkan untuk menyembuhkan trauma masyarakat justru langka. Laporan itu mengungkapkan, negara-negara seperti Libia, Sudan, dan Yaman hanya memiliki 0,5 psikiater per 100.000 orang.

Sebagai perbandingan, di negara-negara Eropa rasionya mencapai antara 9-40 per 100.000. Menurut data dari hasil prediksi terbaru di Studi Global Burden of Diseases, Cedera, dan Faktor Risiko menemukan adanya peningkatan 10 kali lipat kematian yang terkait dengan HIV / AIDS antara 1990 dan 2015. Sebagian besar kasus kematian akibat HIV/ AIDS terjadi di Djibouti, Somalia, dan Sudan. "Di wilayah itu, jumlah orang sekarat akibat terinfeksi HIV lebih tinggi ketimbang di negara-negara lain.(AFP/Arv/I-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya