Nur dan Keluarganya Tertipu Rayuan Kelompok IS

Irene Harty
09/8/2017 09:52
Nur dan Keluarganya Tertipu Rayuan Kelompok IS
(Nurshardrina Khairadhinia---AP/Hussein Malla)

DUA tahun lalu, Nurshardrina Khairadhania, gadis berusia 17 tahun, begitu terpikat dengan presentasi yang disampaikan kelompok Islamic State (IS) di internet.

Kemudian dia mengajak kedua orangtuanya, para saudara perempuan, bibi, paman, dan sepupunya hijrah ke Suriah menjadi anggota IS.

Semua saudara Nurshardrina yang terdiri dari puluhan orang pun mendapat keuntungan finansial saat bergabung. Mereka mendapat jaminan pendidikan dan pelayanan kesehatan gratis. Bahkan utang besar ayah dan pamannya yang dibayarkan serta adik bungsu Nurshardrina pun mendapat pekerjaan.

Bonus besar yang dijanjikan ialah menetap di lingkungan yang digambarkan sebagai masyarakat islami yang dijanjikan kelompok yang dibentuk Abu Bakr al-Baghdadi tersebut.

Namun, impian Nurshardrina itu tak menjadi kenyataan. Harapannya pun sirna berubah menjadi petaka dalam waktu yang singkat. Dia terpaksa menikah dengan anggota dari kelompok militan. Sementara itu, saudara-saudara laki-lakinya dipaksa memanggul senjata untuk bertempur.

Kisah Nurshardrina diungkap dalam wawancara dengan kantor berita Associtaed Press (AP). Kini Nurshardrina yang berusia 19 tersebut mengatakan dia dan keluarga besarnya hanya tinggal beberapa bulan di Raqqa, Suriah.

Pada saat ketika nenek Nurshardrina meninggal, pamannya tewas dihantam roket yang dilepaskan jet tempur pasukan pemerintah. "(IS) Hanya berbagi hal-hal baik di internet," ungkap gadis yang akrab dipanggil Nur itu.

Sekarang Nur tinggal bersama ibunya, dua saudara perempuan, tiga bibi, dua sepupu perempuan, dan ketiga anak mereka di Ain Issa, kamp pasukan pengungsi Kurdi yang berusaha mengusir kelompok IS dari Raqqa.

Ayah Nur dan empat saudara sepupunya masih hidup. Namun, mereka mendekam di sela tahanan sebelah utara Raqqa. Ayah dan saudara laki-lakinya masih tak jelas nasibnya. Pasalnya, beberapa anggota IS dieksekusi mati tentara Suriah dan milisi Syiah.

Kaum perempuan dari keluarga kelompok IS masih diperlakukan manusiawi. Mereka ditempatkan di kamp-kamp pengungsi Ain Issa.

Nur dan ibunya serta saudara perempuannya berharap bisa segera meninggalkan Suriah menuju Jakarta, Indonesia. "Saya sangat menyesal. Saya sangat bodoh dan sangat naif," imbuh Nur.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu RI, Lalu M Iqbal, mengaku pemerintah Indonesia telah mengetahui keberadaan 17 WNI termasuk Nur. (AFP/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya