Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MASIH ingat dengan serangan siber global yang dikenal dengan virus Wannacry pada Mei lalu? Aksi peretasan itu melumpuhkan operasional sejumlah perusahaan, baik skala besar maupun kecil, di sejumlah negara.
Serangan siber itu membuat institusi negara dan swasta, termasuk di Indonesia, ketar-ketir. Mereka takut dan khawatir terkena dampak serengan virus Wannacry.
Namun, akhirnya, gelombang serangan itu dapat ditaklukkan seorang peretas (hacker), Marcus Hutchins, warga Inggris yang juga dikenal sebagai @malwaretechblog.
Peselancar berusia 23 tahun itu menghentikan virus yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hitungan jam dengan menggerakkan 'kill switch'. Ia menemukan solusi untuk serangan ransomware Wannacry dari kamar tidurnya di rumah orangtuanya di Devon.
Sang bloger itu pun mengaku dirinya melompat penuh kegirangan di sekitar kamarnya setelah berhasil menonaktifkan worm yang kerap meminta uang tebusan. Hutchins pun dipuji sebagai pahlawan oleh publik internasional.
Namun, kurang dari tiga bulan setelah Hutchins dielu-elukan sebagai pahlawan, Biro Investigasi Federal (FBI) AS menangkapnya. Ia dituduh berperan dalam mendistribusikan malware perbankan yang dikenal dengan sebutan Kronos.
Hutchins ditangkap dan ditahan aparat FBI di sebuah bandara saat dia baru saja meninggalkan acara konferensi peretasan Black Hat and Def Con di Las Vegas. AS.
"Kami mengetahui bahwa warga Inggris telah ditangkap. Namun, ini ialah masalah bagi pihak berwenang di AS," kata seorang juru bicara Badan Kriminal Nasional Inggris.
Hutchins termasuk di antara ribuan hacker yang berbondong-bondong datang ke kota itu selama konvensi tahunan itu.
Surat dakwaan yang diajukan di pengadilan distrik di Wisconsin menuduh Hutchins, yang juga dikenal secara daring sebagai 'MalwareTech'.
Ia dituduh mendistribusikan dan mengambil keuntungan dari kode malware Kronos yang mencuri data kredensial perbankan daring dan data kartu kredit. Aktivitas yang dituduhkan terhadap Hutchins terjadi antara Juli 2014 dan Juli 2015, menurut dakwaan tersebut.
Ia menghadapi enam tuduhan terkait Kronos dan didakwa bersama dengan sejumlah terdakwa yang tidak disebutkan namanya pada 12 Juli. Namun, kasus tersebut tetap tertutup hingga Kamis (3/8), sehari setelah penangkapannya.
Dan Coe, seorang pembela publik, mencatat bahwa Hutchins tidak memiliki sejarah kriminal dan telah bekerja sama dengan pemerintah federal di masa lalu.
Janet Hutchins, ibunda Hutchins, tak percaya sang anak terlibat tindakan pidana. Apalagi. katanya, aksi tersebut merugikan orang lain. "Sangat tidak mungkin anak saya terlibat," Janet yang membela anaknya. (I-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved