Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIONGKOK menyumbangkan ribuan senjata pada Rabu (28/6) kepada Presiden Filipina, Rodrigo Duterte untuk membantu Filipina melawan kelompok bersenjata ekstremis pengikut Negara Islam (ISIS), Maute yang terjebak di kota bagian selatan.
Pengiriman kecil senjata penembak jitu dan amunisi menjadi langkah awal bantuan militer Tiongkok sejak Duterte mengancam akan mundur dari hubungannya dengan Amerika Serikat dan beralih ke Tiongkok.
Pengiriman senjata senilai US$7,35 juta atau setara 50 juta yuan menjadi sorotan utama era hubungan baru Filipina-Tiongkok, menurut Duterte.
Tentara Filipina dengan serangan udara dan artileri telah bertempur selama lebih dari sebulan untuk menggiring ekstremis keluar Marawi. Sekitar 400 orang tewas dan hampir semua penduduk Marawi, sekitar 200 ribu orang melarikan diri dan kondisi kota hancur.
"Kadang kami hampir menyerah karena kekurangan alat. Hal yang baik kami memiliki teman yang baik seperti Tiongkok yang sangat pengertian," kata Duterte.
Duta Besar Tiongkok untuk Filipina, Zhao Jianhua yang menyerahkan senjata mengungkapkan pengiriman kedua akan segera dilakukan. "Bantuan itu tidak besar tapi menjadi besar karena menandakan era baru hubungan antara dua militer. Tiongkok juga ingin mendapat kesempatan latihan bersama militer untuk melawan terorisme," ungkapnya.
Duterte enggan mengakui bantuan suplai senjata dari AS selama ini meskipun Filipina memiliki perjanjian pertahanan dengan AS. Baru-baru ini dia mengatakan tidak tahu soal bantuan teknis AS untuk tentara di Marawi tapi mencari bantuan senjata lebih dari Tiongkok dan Rusia.
Namun Duterte mengakui sepupu-sepupunya yang bergabung dengan Maute dan seorang diantaranya telah tewas. Dia membiarkan mereka bergabung dengan pemikiran saudara-saudaranya mencari tantangan.
Beberapa jam sebelumnya, militer menyatakan penemuan 17 mayat warga sipil yang tewas oleh ekstremis yang sudah mengepung Marawi 23 Mei lalu. Mayat-mayat itu ditemukan saat tentara dan polisi melakukan penyisiran dekat Gadungan, bagian kota yang hancur total.
"Mayat itu diyakini sebagai warga sipil yang dibunuh oleh teroris Maute dan Abu Sayyaf. Ini adalah kebrutalan mereka. Mereka membunuh warga sipil tak berdosa ini dengan darah dingin," kata Brigadir Jenderal Angkatan Darat Filipina, Rolando Bautista.
Penemuan mayat itu meningkatkan jumlah korban tewas menjadi 44 warga sipil, 71 tentara, dan 299 ekstremis dalam data militer. Jumlah ekstremis juga menyusut menjadi sekitar 150-200 orang namun masih menyandera warga sipil termasuk pemuka agama sebagai tameng.
Juru Bicara Militer, Rastituto Padilla menegaskan tidak ada negosiasi dengan ekstremis pimpinan Isnilon Hapilon. "Meskipun ada sandera kami tidak bernegosiasi. Kami tahu pola pikir mereka jadi ada negosiasi atau tidak, mereka mungkin akan tetap membunuh sandera," ungkapnya. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved