Mahasiswa AS Meninggal Dunia Setelah Dibebaskan Korut

Indah Hoesin/AFP
20/6/2017 16:25
Mahasiswa AS Meninggal Dunia Setelah Dibebaskan Korut
(AP Photo/Kim Kwang Hyon)

MAHASISWA asal Amerika Serikat (AS), Otto Warmbier, yang dibebaskan penahanannya oleh otoritas Korea Utara dalam keadaan koma minggu lalu akhirnya meninggal dunia pada Senin (19/6).

Pria 22 tahun tersebut dievakuasi secara medis ke AS pada Selasa (13/6) setelah ditahan hampir 18 bulan di Korea Utara (Korut). "Perlakuan buruk penyiksaan yang anak kami terima di Korut memastikan bahwa tidak ada kemungkinan lain yang terjadi," ujar keluarga Warmbier dalam sebuah pernyataan.

Dokter minggu lalu mengungkapkan bahwa Warmbier telah menderita luka neurologis parah dan menggambarkannya dalam keadaan 'tidak responsif terjaga'. Pria asal Ohio ini dapat membuka mata dan berkedip namun tidak menunjukkan tanda-tanda mengerti bahasa atau menyadari sekelilingnya.

Rezim Kim Jong-Un sendiri mengklaim bahwa Warmbier mengalami koma setelah dijatuhi hukuman tahun lalu. Korut juga menyebut mahasiswa Universitas Virginia tersebut telah menderita keracunan serius karena bakteri (bolutisme) dan telah diberikan pil tidur.

Namun pengecekan medis yang dilakukan di AS tidak memberikan bukti konklusif terkait infeksi botulisme yang dideritanya. Dokter mengatakan Warmbier kehilangan jaringan parah di semua wilayah otaknya, namun tidak menunjukkan tanda-tanda trauma fisik.

Jika melihat usia Warmbier, dokter mengatakan cedera otaknya kemungkinan besar disebabkan oleh cardiopulmonary arrest (berhentinya jantung dan paru) yang menghentikan suplai darah ke otak.

Warmbier sedang melakukan perjalanan wisata di Korut ketika ditangkap dan dijatuhi hukuman 15 tahun kerja paksa pada Maret 2016. Warmbier dituding mencuri poster politik propaganda dari sebuah hotel di negeri komunis tersebut.

Saat ini masih ada tiga warga AS yang ditahan oleh Korut. Dua diantaranya merupakan dosen di Universitas Pyongyang yang didanai kelompok kristen luar negeri, sementara satu orang lagi adalah pendeta yang dituding menjadi mata-mata untuk Korea Selatan (Korsel).

Pasca kematian Warmbier, kelompok tur yang mengatur perjalanan wisata ke Korut mengatakan tidak akan menggelar tur serupa ke negara yang terisolasi tersebut.

"Kehilangan Otto Warmbier telah membawa kami untuk mempertimbangkan kembali posisi kami dalam menerima wisatawan AS. Belum ada penahanan yang berakhir tragis seperti ini sebelumnya," ujar Young Pioneer Tours yang berbasis di Tiongkok dalam sebuah pernyataan.

AS Ajak Tiongkok Tekan Korut

Presiden AS, Donald Trump, segera mengecam Pyongyang setelah kematian Warmbier. "Ini adalah rezim yang brutal. Hal buruk terjadi namun setidaknya kita berhasil membawanya pulang ke orangtuanya," ujar Trump saat menghadiri acara di Gedung Putih.

Dalam pernyataan terpisah, Trump mengatakan "Nasib Otto memperdalam tekad pemerintahan saya untuk mencegah tragedi semacam itu menimpa orang-orang yang tidak bersalah di tangan rezim yang tidak menghormati peraturan hukum atau kesusilaan dasar manusia".

Menteri Luar Negeri (Menlu) AS, Rex Tillerson, juga menyampaikan kecaman dan tuntutan agar Korut bertanggung jawab. "Kami meminta Korut bertanggung jawab atas penahanan Otto Warmbier yang tidak adil, dan menuntut pembebasan tiga warga AS lainnya yang telah ditahan secara ilegal," ujar Tillerson.

Sementara itu AS dijadwalkan akan menjadi tuan rumah dua pejabat Tiongkok paling senior pada Rabu (21/6) untuk memperdalam dialog antarnegara sekaligus menguji kesediaan Beijing untuk menekan Korut.

Menlu Tillerson dan Menteri Pertahanan (Menhan) AS, Jim Mattis, akan menyambut Anggota Dewan Negara, Yang Jiechi dan Kepala Militer Tiongkok, Jenderal Fang Fenghui.

Susan Thornton, sekretaris Menlu untuk urusan Asia Timur dan Pasifik mengatakan pertemuan pertama dialog diplomatik dan keamanan AS-Tiongkok ini akan berfokus pada Korut.

"Kami terus mendesak Tiongkok untuk memanfaatkan pengaruh uniknya sebagai mitra dagang terbesar Korut, termasuk dengan menerapkan sepenuhnya semua sanksi Dewan Keamanan PBB," ujar Thornton mengacu pada upaya untuk menghentikan program nuklir Pyongyang.

Meskipun ada kecaman dan sanksi internasional, Korut terus membangun gudang senjata nuklir dan tengah mengembangkan rudal balistik yang menjadi ancaman bagi Jepang, Korsel dan mungkin ke depannya mengancam beberapa kota di AS.

Washington memiliki sekitar 28 ribu tentara yang ditempatkan di Korsel dan memiliki armada angkatan laut di wilayah tersebut, namun AS tidak memiliki pengaruh diplomatik ataupun ekonomi untuk menekan Kim Jong Un.

"Kami akan fokus, seperti yang saya katakan, terutama mengenai ancaman mendesak yang dilakukan oleh Korut, dan kami perkirakan itu akan memakan waktu lama," ujar Thornton.

"Kami tidak berharap akan menyelesaikan semua masalah pada Rabu (21/6), namun kami berharap beberapa isu lain yang sedang kami atasi, seperti tindakan membangun kepercayaan militer ke militer, kami mungkin akan membuat kemajuan di sana," tambahnya. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya