SEJAK awal 2014, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), 22.149 kasus campak dilaporkan di tujuh negara Eropa, dengan Kirgizstan, Bosnia, Herzegovina, serta Rusia menjadi negara yang paling terdampak. Wabah campak juga melanda Georgia, Kazakhstan, Italia, dan Jerman.
Merebaknya penyakit yang sebenarnya bisa dicegah itu di negara-negara Eropa serta Ame rika Serikat (AS) terjadi seiring dengan munculnya gerakan orangtua yang menolak memvaksinasi anak mereka.
Banyak orangtua menolak memberikan vaksin measles, mumps, and rubella (MMR) atau campak, gondok, dan rubela, kepada anak mereka karena vaksin itu dituding meningkatkan peluang terjadinya autisme. Padahal, teori tersebut telah terbantahkan oleh sejumlah penelitian terbaru. Kontroversi tentang vaksinasi dimulai sejak munculnya sebuah penelitian yang dilansir jurnal kesehatan Lancet pada 1988.
Di Jerman, Menteri Kesehatan Berlin Mario Czaja mengusulkan vaksinasi campak menjadi keharusan. Hal itu diputuskan Czaja setelah se orang balita laki-laki berusia 18 bulan meninggal akibat campak pada 18 Februari lalu. Anak itu merupakan korban meninggal pertama dari 574 kasus campak yang dilaporkan di Jerman sejak Oktober lalu.
Kematian balita itu meningkatkan perde batan mengenai apakah orangtua harus dipaksa untuk memvaksinasi anak mereka.
''Kasus ini menunjukkan bahwa campak adalah penyakit serius. Saya mendukung vaksinasi menjadi keharusan,'' tegas Czaja.
Sejumlah politikus lintas partai di Jerman mengampanyekan orangtua tidak ragu memvak sinasi anak mereka. ''Jika kampanye itu gagal, langkah berikutnya ialah mewajibkan vaksinasi,'' ujar Karl Lauterbach, pemimpin fraksi Sosial Demokrat di parlemen Jerman, kepada surat kabar Welt am Sonntag.
Tidak masuk akal Menteri Kesehatan Jerman Hermann Grohe juga mengkritik orang-orang yang menentang vaksinasi. ''Itu ketakutan yang tidak masuk akal. Mereka yang menentang vaksinasi sangat tidak bertanggung jawab.Orangtua yang menolak melindungi anak mereka dari campak bukan hanya membahayakan anak mereka, melainkan juga anak-anak orang lain.''
Media massa Jerman melaporkan sejumlah orangtua yang menolak vaksinasi campak justru membawa anakanak mereka ke ajang yang dinamakan `pesta campak'.Di sana, anak-anak yang sehat dipertemukan dengan anak-anak yang menderita campak supaya anak-anak yang sehat bisa mendapatkan kekebalan tubuh secara alami. Praktik itu dikecam pekerja medis Jerman.
WHO pun telah meminta negara-negara Eropa untuk meningkatkan vaksinasi setelah 22 ribu kasus campak terjadi di `Benua Biru' itu sejak 2014.
''Kita harus menanggapi masalah ini secara kolektif dengan segera. Caranya dengan memangkas kesenjangan imunisasi. Ini tidak bisa diterima. Setelah berupaya selama 50 tahun untuk memastikan kita memiliki vaksin yang mumpuni, ternyata campak masih menyebabkan hilangnya nyawa, uang, dan waktu,'' ujar Direktur WHO untuk Eropa Zsuzsanna Jakab.
Campak menyebabkan demam tinggi dan ruam.Di kasus yang parah, penyakit itu bisa menyebabkan pneumonia, juga pembengkakan otak serta kematian.Penyakit tersebut sangat menular karena disebarkan melalui udara.
Merebaknya wabah campak di Eropa pun mengancam target WHO untuk memberantas penyakit menular di 'Benua Biru', yang sedianya tuntas pada akhir tahun ini, buyar. “Saat ini, prioritas utamanya ialah mengendalikan wabah yang terjadi di semua negara Eropa melalui imunisasi,“ tegas Nedret Emiroglu, wakil direktur WHO untuk Eropa. 17 negara bagian Sementara itu, di AS, wabah campak juga belum mereda. Pada pekan ketiga Februari dilaporkan, ada 13 kasus baru campak. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Senin (23/2), mengonfirmasi telah terjadi 154 kasus campak sejak 1 Januari.
Pada 20 Februari, warga AS terguncang ketika ter jadi 118 kasus setelah sekelompok orang yang tidak divaksinasi MMR bertamasya ke Disneyland dan menularkan penyakit itu.
Wabah campak yang melanda AS memicu diskusi mengenai keengganan orangtua memvaksinasi anak mereka. Dari 34 orang yang diidentifikasi menderita campak oleh Depar temen Kesehatan Masyarakat California, hanya lima orang yang telah mendapatkan vaksinasi campak lengkap atau dua kali. Se cara nasional trennya sama.
Direktur National Center for Immunization and Respiratory Diseases Dr Anne Schuchat mengatakan, ''Masalahnya bukan karena vaksinasi campak tidak bekerja. Masalahnya ialah vaksinasi campak tidak dilakukan.''
Saat ini, CDC melaporkan makin banyak kasus campak dialami orang dewasa. Namun, anak-anak masih menjadi mayoritas korban penyakit menular itu. Hingga pertengahan Februari, kasus campak dilaporkan terjadi di 17 negara bagian, yaitu Arizona, California, Colorado, Delaware, District of Columbia, Illinois, Minnesota, Michigan, Nebraska, Nevada, New York, Georgia, Pennsylvania, South Dakota, Texas, Utah, dan Washington.
CDC juga telah mengeluarkan peringatan kesehatan pada 23 Januari lalu. Kala itu, virus campak baru menyebar di enam negara bagian. Tahun lalu, AS melaporkan jumlah kasus campak terbanyak dalam dua dekade dengan 644 kasus. CDC menyebut wabah itu terjadi karena meledaknya kejadian campak di Filipina dan dibawa turis yang datang ke AS.
Virus campak sangat menular bahkan sebelum gejala dirasakan si penderita. Satu penderita campak bisa menularkan campak ke rata-rata 18 orang. Virus campak juga bisa bertahan di udara dan hidup di permukaan benda bahkan saat si penderita campak sudah tidak ada di lokasi.Menurut CDC, satu atau dua dari 1.000 penderita campak meninggal. (AFP/ABC News/The Guardian/I-1)