SEJUMLAH pemimpin perguruan tinggi negeri (PTN) merespons positif sikap pemerintah yang tetap mengkaji korelasi nilai ujian nasional (UN) dengan rapor siswa pada seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Mereka setuju agar rekam jejak sekolah tetap dipantau agar tidak merugikan lulusan SMA dan sederajat yang mengikuti SNMPTN.
"Kajian nilai rapor dan profil nilai UN penting untuk melihat konsistensi perjalanan prestasi siswa selama tiga tahun dengan prestasi hasil UN yang hanya dilaksanakan tiga hari,'' kata Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Kadarsjah di Jakarta, kemarin.
Sebelumnya, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristek dan Dikti) M Nasir menyatakan akan mengkaji korelasi hasil UN dan nilai rapor siswa, meski UN disepakati jadi salah satu faktor yang ikut menentukan kelulusan SNMPTN.
Jika setelah dikaji hasilnya tak berkorelasi positif, seperti nilai UN siswa tinggi, tapi nilai rapor rendah, Nasir menyerahkan keputusan lulus tidaknya siswa SMA dan se-derajat atau calon mahasiswa dalam SNMPTN pada tiap perguruan tinggi negeri (PTN) (Media Indonesia, 27/2).
Itu sebabnya, menurut Kadarsjah, sebaiknya panitia SNMPTN dan PTN tetap menunggu pelaksanaan UN. Ia berkeyakinan karena UN dijadikan salah satu penentu penerimaan SNMPTN, siswa akan berlomba mendapat nilai UN yang tinggi dengan belajar serius. ''Sehingga potensi baru kecurangan akan tetap ada. Potensi kecurangan ini yang harus dicermati bersama,'' tegasnya.
Rektor Universitas Indonesia (UI) M Anis menyatakan secara umum siswa berprestasi akademik baik, hasil UN-nya akan baik. "Untuk mengantisipasi kecurang-an, PTN mesti melihat database guna melihat profil atau rekam jejak sekolah dan prestasi sekolah.''
Ia pun mengimbau semua pihak harus memberi contoh untuk mengedepankan nilai kejujuran dalam pelaksanaan UN dan penilaiannya.
Rektor Universitas Andalas Werry Data Taifur menambahkan PTN juga bisa menilai peserta SNMPTN dari rekam jejak sekolah berdasarkan pengalaman jumlah dan prestasi mahasiswa asal sekolah bersangkutan.
"Di sini, PTN bisa menentukan sekolah yang memiliki indeks integritas rendah tentu tidak akan mungkin menerima banyak mahasiswa dari sekolah bersangkutan,'' pungkas Wakil Ketua Majelis Rektor PTN (MRPTN) itu.
Mengejar UN Di lain pihak, praktisi pendidikan Darmaningtyas menyayangkan UN yang tetap menjadi salah satu faktor penentu lulus SNMPTN. Artinya, itu sama saja UN sebagai penentu kelulusan, karena orientasi sekolah akan tetap sama, yaitu bagaimana mencapai nilai UN yang bagus agar siswa-siswanya dapat diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni PTN.
"Dengan begitu, kebijakan baru mengenai fungsi UN ini tidak mengubah kondisi yang ada selama ini. Selama nilai UN masih dipakai sebagai syarat tertentu, kecurangan akan selalu ada. Agar UN tidak diwarnai kecurangan, semestinya UN tidak menjadi syarat apa-apa kecuali untuk pemetaan kualitas saja,'' tukas Darmaningtyas. (H-2)