Tes Mata Sederhana Bantu Keluarga Hadapi Momen Perpisahan

Thalatie K Yani
30/4/2026 12:30
Tes Mata Sederhana Bantu Keluarga Hadapi Momen Perpisahan
Ilustrasi(Magnific)

MENENTUKAN kapan seseorang benar-benar memasuki jam-jam terakhir hidupnya adalah salah satu tantangan terberat dalam perawatan akhir hayat (end-of-life care). Meski keluarga sering kali merasakan firasat, kepastian medis tetap menjadi pegangan penting untuk mempersiapkan perpisahan.

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal BMJ Supportive and Palliative Care mengungkapkan bahwa tes mata sederhana di samping tempat tidur dapat membantu dokter memperkirakan apakah kematian akan terjadi dalam waktu 24 jam. Tes ini memberikan sesuatu yang sangat dibutuhkan keluarga di momen kritis: kejelasan waktu.

Hilangnya Refleks Kornea sebagai Sinyal

Penelitian yang dipimpin oleh Jung Hun Kang, Direktur Pusat Hospice di Rumah Sakit Universitas Nasional Gyeongsang, Korea Selatan, fokus pada pasien kanker stadium lanjut. Studi ini menemukan bahwa hilangnya refleks kornea, respons berkedip otomatis saat permukaan mata disentuh lembutmerupakan indikator kuat bahwa kematian sudah sangat dekat.

Bagi keluarga, mengetahui estimasi waktu ini sangatlah krusial. "Anggota keluarga sering kali menganggap keberadaan mereka di momen kematian sangatlah penting," ujar Kang. Hal inilah yang memicu pertanyaan mendesak mengenai berapa banyak waktu yang tersisa bagi orang terkasih mereka.

Uji Coba Klinis di Ruang Hospice

Tim peneliti mengikuti 112 pasien kanker stadium lanjut yang diperkirakan memiliki sisa usia satu hingga dua minggu. Perawat memeriksa refleks kornea pasien tiga kali sehari dengan menyentuhkan ujung kapas steril secara lembut ke permukaan mata.

Hasilnya cukup mencolok. Dari total pasien yang diamati, mereka yang kehilangan refleks kornea memiliki peluang lima kali lebih besar untuk meninggal dalam waktu 24 jam dibandingkan mereka yang refleksnya masih ada. Tingkat kematian dalam 24 jam pada kelompok tanpa refleks kornea mencapai 70,7 persen.

Para peneliti meyakini fenomena ini mencerminkan kegagalan fungsi batang otak, yakni bagian otak yang mengendalikan fungsi dasar tubuh seperti pernapasan dan kesadaran.

Bukan Kepastian Mutlak, Tapi Panduan Berharga

Meski menunjukkan hasil yang signifikan, para ahli menekankan tes ini bukanlah aturan baku. David Hui, Direktur Riset Perawatan Paliatif di MD Anderson Cancer Center, Houston, menilai temuan ini menjanjikan namun perlu disikapi dengan bijak.

Hui mencatat bahwa studi ini berskala kecil dan hanya terbatas pada pasien kanker stadium lanjut, sehingga hasilnya mungkin tidak bisa langsung diterapkan pada pasien dengan kondisi medis berbeda.

Tes ini paling efektif jika digunakan sebagai pendukung penilaian klinis lainnya, seperti perubahan pola napas atau penurunan kesadaran. Jika refleks kornea hilang, kemungkinan besar kematian sangat dekat. Namun, jika refleks masih ada, bukan berarti kematian tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

Pada akhirnya, studi ini memberikan panduan tambahan di salah satu momen medis yang paling emosional. Bukan untuk menawarkan kepastian yang mustahil, melainkan untuk membantu keluarga dan tenaga medis memiliki pemahaman yang lebih tajam dalam mendampingi pasien di sisa waktu terakhirnya. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya