Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DUNIA kedokteran modern masih menghadapi tantangan besar dalam menangani luka bakar, luka kronis, hingga penipisan kulit akibat penuaan. Namun, solusi untuk masalah ini mungkin tidak datang dari laboratorium canggih, melainkan dari seekor makhluk kecil yang ditemukan di kolam taman kota Malmö, Swedia.
Tim peneliti dari Universitas Lund baru-baru ini melakukan studi unik terhadap planaria, sejenis cacing pipih yang dikenal memiliki kemampuan luar biasa untuk menumbuhkan kembali seluruh bagian tubuhnya yang hilang. Hasilnya mengejutkan: sinyal dari cacing ini terbukti dapat membantu memperbaiki kulit manusia.
Kunci dari kemampuan ini terletak pada vesikel ekstraseluler (EV), yakni partikel mikroskopis seukuran virus yang dilepaskan oleh sel untuk berkomunikasi. Pada cacing pipih, vesikel ini membawa protein dan materi genetik yang memerintahkan sel untuk melakukan regenerasi total.
"Kami sangat terkejut karena kami bukan laboratorium khusus cacing pipih, namun sains ini terasa menarik, menangani pertanyaan penelitian tak terduga yang belum pernah dibahas siapa pun sebelumnya," ujar Martin Hjort, peneliti rekanan di bidang biologi kimia dan terapeutik.
Dalam eksperimen yang dipublikasikan di jurnal ACS Omega, para ilmuwan menguji vesikel dari cacing pipih ini pada model embrio ayam yang mengalami luka bakar. Hasilnya, luka yang diobati dengan vesikel tersebut menutup jauh lebih cepat dibandingkan luka tanpa pengobatan.
Tak berhenti di situ, tim juga menguji dampaknya pada jaringan kulit manusia buatan di laboratorium. Setelah tiga hari, lapisan kulit terdalam menunjukkan respons yang kuat. Lapisan ini menjadi lebih tebal, yang mengindikasikan adanya peningkatan produksi kolagen.
"Studi ini menunjukkan bahwa molekul pemberi sinyal dari cacing pipih dapat mempercepat proses penyembuhan tubuh manusia sendiri," kata Hjort. "Ini adalah pertama kalinya seseorang menunjukkan kemungkinan penggunaan kemampuan regeneratif dari cacing pipih pada organisme lain."
Salah satu kekhawatiran utama dalam penggunaan material lintas spesies adalah reaksi imun. Namun, saat diuji menggunakan sel darah manusia, vesikel dari cacing ini tidak menunjukkan reaksi imun yang merugikan. Hal ini menjadikannya alternatif yang lebih aman dan sederhana dibandingkan terapi sel punca yang berisiko memicu tumor.
Selain itu, cacing pipih sangat mudah dikembangbiakkan. Dengan memotong satu cacing, masing-masing bagian akan tumbuh menjadi individu baru dalam waktu satu hingga dua minggu, sehingga memungkinkan produksi skala besar.
Penelitian ini telah menarik minat industri kecantikan untuk mengembangkan produk perawatan kulit (skincare) berbasis temuan ini. Meski masih dalam tahap awal, sinyal dari makhluk kecil di dasar kolam ini berpotensi mengubah cara medis menangani luka dan penuaan kulit di masa depan. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved