Profil Ali Al-Zaidi, Bankir Independen yang Jadi Penengah Kepentingan AS-Iran di Irak

 Gana Buana
29/4/2026 10:34
Profil Ali Al-Zaidi, Bankir Independen yang Jadi Penengah Kepentingan AS-Iran di Irak
Mengenal Ali Al-Zaidi, bankir multimiliuner yang muncul sebagai calon Perdana Menteri Irak di tengah ketegangan geopolitik AS dan Iran.(Dok. AFP)

ALI Falih Kadhim Al-Zaidi muncul sebagai kandidat kuat Perdana Menteri (PM) Irak setelah dipilih oleh blok politik Syiah terbesar, Coordination Framework, sebagai figur kompromi di tengah kebuntuan politik yang panjang. Pria yang dikenal sebagai bankir multimiliuner ini menjadi opsi netral untuk meredakan ketegangan antara kepentingan Amerika Serikat dan Iran di wilayah tersebut.

Profil Ali Al-Zaidi, Bisnis, dan Kekayaan

Ali Al-Zaidi bukanlah wajah lama dalam kancah perpolitikan Irak. Lahir sekitar tahun 1986, pria asal Baghdad/Dhi Qar ini lebih banyak menghabiskan kariernya di sektor swasta.

Ia dikenal sebagai sosok "Crazy Rich" dengan jaringan bisnis yang luas, mencakup sektor perbankan, investasi, pendidikan, hingga media.

Beberapa posisi strategis yang pernah dan sedang dijabatnya antara lain:

  • Ketua Al-Janoob Islamic Bank.
  • Pimpinan berbagai perusahaan investasi besar.
  • Pengelola institusi pendidikan tingkat universitas.

Kandidat Kompromi, Bukan "Boneka"

Munculnya nama Al-Zaidi sempat memicu spekulasi mengenai kedekatannya dengan pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump. Namun, fakta menunjukkan bahwa Al-Zaidi lebih tepat disebut sebagai kandidat kompromi daripada "boneka" pihak tertentu. Penunjukannya terjadi setelah AS menolak kandidat lain yang dianggap terlalu pro-Iran, sementara Al-Zaidi dipandang sebagai figur yang tidak kontroversial secara geopolitik.

Sebagai tokoh independen tanpa basis partai yang kuat, Al-Zaidi memiliki keunggulan dalam menjalin relasi baik dengan berbagai kubu, baik internal Irak maupun kekuatan luar. Ia dianggap sebagai figur "aman" yang dapat diterima oleh Barat maupun Teheran.

Analisis Politik:

Status Ali Al-Zaidi saat ini masih sebagai PM-designate (calon perdana menteri). Untuk resmi menjabat, ia harus melewati proses validasi dan mendapatkan dukungan penuh dari parlemen Irak. Tantangan utamanya adalah membuktikan bahwa latar belakang bisnisnya dapat ditransformasikan menjadi kebijakan politik yang mampu mengatasi krisis ekonomi dan sosial di Irak.

Hingga saat ini, proses lobi politik masih terus berjalan di Baghdad. Kehadiran Al-Zaidi menandai pergeseran tren politik Irak yang mulai melirik teknokrat dan pengusaha sukses untuk memecah kebuntuan kekuasaan yang selama ini didominasi oleh politisi tradisional. (Almonitor/Aljazeera/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya