Bagaimana Punahnya Hewan Purba Masih Membentuk Alam Saat Ini

Thalatie K Yani
29/4/2026 13:45
Bagaimana Punahnya Hewan Purba Masih Membentuk Alam Saat Ini
Ilustrasi(freepik)

MELANGKAH ke dalam hutan yang rimbun sering kali memberikan kesan ekosistem yang utuh dan tak lekang oleh waktu. Kicauan burung dan deru serangga seolah menandakan kehidupan yang lengkap. Namun, sebuah studi terbaru mengungkapkan kebenaran yang lebih dalam, apa yang kita lihat hari ini hanyalah sebagian kecil dari kekayaan alam yang pernah ada.

Penelitian yang dipimpin Chia Hsieh dan Lydia Beaudrot dari Michigan State University mengalihkan fokus dari penyebab kepunahan spesies di masa lalu menuju dampak jangka panjang setelah mereka menghilang. Studi ini membuktikan bahwa hilangnya hewan-hewan besar ribuan tahun lalu masih membentuk struktur alam hingga saat ini.

Kontras Rantai Makanan Antar Benua

Tim peneliti mengamati 389 lokasi di Afrika, Asia, dan Amerika yang memiliki iklim serupa untuk memastikan perbandingan yang akurat. Mereka memetakan jaringan makanan yang melibatkan lebih dari 440 spesies mamalia, mempelajari hubungan predator-mangsa, serta keanekaragaman spesies di sana.

Temuannya cukup mencolok. Di benua Amerika, jaringan makanan terasa lebih "tipis". Jumlah spesies mangsa lebih sedikit dan ukurannya cenderung kecil. Akibatnya, predator hanya bergantung pada kelompok hewan yang terbatas. Sebaliknya, Afrika memiliki struktur yang jauh lebih kaya dan berlapis, di mana predator berburu berbagai jenis spesies dengan ukuran dan perilaku yang beragam.

Warisan Zaman Es

Perbedaan ini berakar pada peristiwa di akhir zaman Pleistosen. Kala itu, banyak hewan besar seperti mamut, kucing gigi pedang, dan kukang raksasa punah. Meskipun semua benua mengalami kehilangan, Amerika terkena dampak paling parah dengan hilangnya lebih dari tiga perempat mamalia besar berbobot di atas 100 pon (sekitar 45 kg).

Kepunahan megafauna ini ternyata merusak seluruh tatanan ekosistem. "Banyak bagian bawah dari rantai makanan yang ikut hilang," ujar Hsieh. Ketika herbivora besar lenyap, predator kehilangan mangsa, pemakan bangkai kehilangan sumber makanan, dan struktur sistem secara keseluruhan bergeser.

Dampak yang Menetap Ribuan Tahun

Ekolog menyebut fenomena ini sebagai kaskade trofik (trophic cascades). Lydia Beaudrot menjelaskan dampak ini tidak hilang begitu saja meski ribuan tahun telah berlalu.

“Ketika predator menghilang, mangsa mereka dapat berkembang biak tanpa kendali, menyebabkan serangkaian efek kaskade,” kata Beaudrot.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini menunjukkan bahwa ekosistem saat ini masih membawa "sidik jari" dari kehilangan kuno tersebut. Hal ini memicu kekhawatiran baru bagi masa depan, mengingat banyak mamalia besar saat ini, seperti gajah, badak, dan harimau, sedang berada di bawah tekanan kepunahan.

“Dengan mempelajari masa lalu, kita juga dapat mencoba memahami apa yang diharapkan di masa depan,” tambah Hsieh.

Sistem alam yang telah disederhanakan akibat kehilangan spesies di masa lalu mungkin akan lebih sulit beradaptasi dengan perubahan di masa depan. Pada akhirnya, apa yang kita lihat di alam saat ini bukan hanya tentang apa yang tersisa, tetapi juga tentang kekosongan yang ditinggalkan oleh mereka yang telah tiada. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya