Ancaman Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Hubungan Kuno Semut dan Pohon di Borneo

Thalatie K Yani
28/4/2026 13:15
Ancaman Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Hubungan Kuno Semut dan Pohon di Borneo
Ilustrasi(freepik)

HUTAN hujan sering kali menyimpan kemitraan yang tampak sederhana namun berakar dalam pada sejarah evolusi. Salah satu hubungan paling ikonik adalah mutualisme antara semut Crematogaster dan pohon Macaranga di Borneo. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan aktivitas manusia, khususnya konversi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit, mulai merusak keseimbangan kuno tersebut.

Selama jutaan tahun, pohon Macaranga menyediakan rumah berupa batang berongga dan cadangan makanan bagi semut. Sebagai imbalannya, semut bertindak sebagai "tentara" yang menyerang herbivora dan membersihkan tanaman merambat yang merugikan. Namun, kehadiran spesies serangga baru kini mengancam kerja sama tersebut.

Invasi Tawon di Lahan Terganggu

Para peneliti menemukan tawon spesies Dasyproctus agilis mulai bersarang di dalam batang pohon yang seharusnya menjadi rumah bagi semut. Fenomena ini jarang ditemukan di hutan alami, namun marak terjadi di area perkebunan.

"Saat menyurvei tanaman semut ini, saya melihat banyak batang yang dilubangi dengan cara yang tidak biasa. Ketika kami membukanya, batang tersebut penuh dengan lalat yang dimakan hidup-hidup oleh larva tawon," kata Dan Lestina, pemimpin penelitian tersebut.

Tawon dewasa melumpuhkan lalat dan menyimpannya di dalam rongga pohon sebagai cadangan makanan bagi larva mereka. Perilaku ini merupakan temuan baru yang belum pernah tercatat sebelumnya pada keluarga tanaman ini.

Perkebunan Sawit Sebagai Pemicu

Hasil studi menunjukkan pola yang jelas: di hutan bekas tebangan, hanya satu pohon yang dihuni tawon. Sebaliknya, di perkebunan kelapa sawit, jumlah pohon yang diinvasi tawon jauh lebih tinggi. Kondisi perkebunan yang memiliki struktur tanaman lebih sederhana dan lingkungan yang seragam tampaknya menguntungkan spesies generalis seperti tawon ini.

"Aktivitas manusia mengubah habitat di seluruh dunia, dan pergeseran interaksi spesies seperti ini adalah persis seperti yang kami perkirakan akan terjadi," ujar rekan penulis studi, Dr. Kalsum M. Yusah.

Dampak Terhadap Ekosistem dan Evolusi

Persaingan memperebutkan ruang mengakibatkan koloni semut pada pohon yang dihuni tawon menjadi lebih kecil. Jika populasi semut terus menyusut, pohon Macaranga yang berperan penting dalam pemulihan hutan mungkin akan kehilangan perlindungan alaminya.

Lebih jauh lagi, para ilmuwan mengkhawatirkan dampak evolusioner jangka panjang. Jika pohon merasa tidak lagi mendapatkan keuntungan dari menyediakan tempat tinggal bagi semut karena dieksploitasi oleh tawon, pohon tersebut mungkin akan berhenti memproduksi struktur rumah bagi semut.

"Ketika manfaat mutualistik runtuh, hal itu dapat mendorong perubahan evolusioner jangka panjang," tegas Dr. Tom M. Fayle dari Queen Mary University of London.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal PeerJ ini menjadi pengingat betapa rapuhnya hubungan ekologis yang telah stabil selama jutaan tahun ketika dihadapkan pada tekanan perubahan lanskap oleh manusia. Understanding dan melindungi interaksi halus ini menjadi kunci penting bagi pelestarian ekosistem masa depan. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya