Jejak Leluhur "Cyclops", Rahasia Evolusi Mata dan Siklus Tidur Manusia Terungkap

Thalatie K Yani
28/4/2026 12:30
Jejak Leluhur
Bintik terang di tengah kepala membentuk mata median pada kadal bertanduk kerajaan ini. Mata normal hewan tersebut tidak terlihat karena gambar diambil dari belakang.((c) Bruno Frías Morales, beberapa hak dilindungi (CC BY))

SEBUAH makhluk aneh mirip cyclops (raksasa bermata satu) yang hidup hampir 600 juta tahun lalu ternyata memegang kunci sejarah penglihatan hingga pola tidur manusia modern. Penelitian terbaru mengungkapkan semua vertebrata, termasuk manusia, mewarisi penglihatan mereka dari satu "mata median" peka cahaya yang terletak di atas kepala leluhur purba yang mirip cacing.

Para ilmuwan dari Universitas Lund di Swedia dan Universitas Sussex di Inggris melaporkan evolusi mata vertebrata melewati jalur yang sangat tidak biasa. Penemuan ini membalikkan pemahaman lama tentang bagaimana otak dan indra penglihatan kita terbentuk.

Evolusi yang Sempat "Terhenti"

Sekitar 600 juta tahun lalu, leluhur jauh kita adalah hewan kecil mirip cacing yang menghabiskan hidupnya dengan menetap di dasar laut dan menyaring plankton. Menariknya, hewan ini diduga sempat memiliki dua mata, namun menghilang karena gaya hidup menetap membuat penglihatan tajam tidak lagi diperlukan.

"Kita tidak tahu apakah sepasang mata pada cabang pohon evolusi kita itu hanyalah sel peka cahaya atau mata pembentuk gambar yang sederhana. Kita hanya tahu bahwa organisme tersebut kemudian menghilangkannya," ujar Dan-E Nilsson, profesor emeritus biologi sensorik di Universitas Lund.

Setelah kehilangan sepasang mata tersebut, organisme ini mempertahankan sekumpulan sel peka cahaya di tengah kepalanya. Sel-sel inilah yang membentuk mata tunggal sederhana, mata median, yang berfungsi mendeteksi arah datangnya cahaya.

Mengapa Mata Manusia Berbeda dari Gurita?

Jalur evolusi yang unik ini menjelaskan mengapa mata vertebrata (hewan bertulang belakang) sangat berbeda strukturnya dari serangga atau cumi-cumi. Pada manusia, retina mata sebenarnya berkembang dari jaringan otak, bukan dari jaringan kulit.

"Sekarang kita akhirnya mengerti mengapa mata vertebrata berbeda secara radikal dari mata semua kelompok hewan lain, seperti serangga dan cumi-cumi. Lapisan mata kita, retina, berkembang dari otak, sedangkan mata serangga dan cumi-cumi berasal dari kulit di sisi kepala," jelas Nilsson.

Ketika leluhur kita kembali ke gaya hidup aktif berenang jutaan tahun kemudian, tekanan evolusi memaksa mereka menciptakan kembali penglihatan yang lebih baik. Alih-alih membangkitkan mata lama, bagian dari "mata tunggal" inilah yang kemudian berkembang menjadi sepasang mata pembentuk gambar yang kita miliki saat ini.

Kelenjar Pineal

Salah satu temuan paling mengejutkan adalah sisa-sisa mata "Cyclops" purba tersebut masih ada di dalam otak manusia modern. Bagian itu kini dikenal sebagai kelenjar pineal, organ kecil jauh di dalam otak yang mengatur ritme sirkadian (jam biologis) kita.

Kelenjar ini memproduksi melatonin, hormon yang mengontrol pola tidur berdasarkan deteksi cahaya. Ini adalah bukti nyata kemampuan tubuh kita untuk tertidur saat gelap adalah warisan langsung dari mata tunggal nenek moyang kita ratusan juta tahun silam.

"Sangat mencengangkan kemampuan kelenjar pineal kita untuk mengatur tidur menurut cahaya berasal dari mata median 'cyclops' dari leluhur jauh 600 milun tahun yang lalu," pungkas Nilsson.

Penelitian ini tidak hanya memetakan sejarah visi manusia, tetapi juga memberikan pemahaman baru tentang sirkuit saraf yang menganalisis gambar pada retina mata kita saat ini. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya