Buku Kampus Meretas Batas, Kisahkan Upaya Menarik Minat Mahasiswa Asing, Terapkan Bahasa Inggris dan Magang Hingga 1 Tahun

Iis Zatnika
27/4/2026 16:34
Buku Kampus Meretas Batas, Kisahkan Upaya Menarik Minat Mahasiswa Asing, Terapkan Bahasa Inggris dan Magang Hingga 1 Tahun
Peluncuran buku "Kampus Meretas Batas" di kampus President University pada Rabu (22/4).(Dok Istimewa)

Kampus-kampus di Indonesia terus berupaya menarik minat mahasiswa asing. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti saintek) belum lama ini mengupayakan internasionalisasi perguruan-perguruan tinggi agar berkelas dunia dan menarik minat mahasiswa negara lain. 

Strategi yang dirumuskan Kemendikti saintek, berbasis ekosistem, mulai promosi, aspek bahasa, kemudahan pengurusan visa, ketersediaan fasilitas, hingga mobilitas. Salah satu kampus yang berfokus menarik mahasiswa asing adalah President University di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. 

Pada acara peluncuran buku "Kampus Meretas Batas" di kampus President University pada Rabu (22/4) yang juga bertepatan dengan Dies Natalis ke-25 terungkap kiat bertahan kampus itu selama dua dekade. 

Pendiri President University Setyono Djuandi Darmono menegaskan, kurikulum dan penggunaan Bahasa Inggris sebagai pengantar sepenuhnya, mendukung kampus ini menjadi universitas swasta dengan jumlah mahasiswa asing terbanyak di Indonesia yang berasal lebih dari 50 negara. Jumlahnya mencakup sedikitnya 8% dari 5.000 mahasiswa aktif. Mereka berasal dari Inggris, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Mongolia, Vietnam, Taiwan, Afrika Selatan, Afghanistan, Timor Leste, China, hingga Jepang, 

Kampus itu dirintis pada 1997 oleh Setyono Djuandi Darmono, Chairman Jababeka Group serta Presiden Bond University, Queensland dan Wakil Rektor Curtin University, Australia Barat Donald W. Watts. Berdiri di kawasan industri seluas 5.600 hektar yang menampung lebih dari 1.650 perusahaan nasional dan multinasional, kampus ini dibuka pada 2001 dengan nama Cikarang School of Engineering. Selanjutnya, pada 16 April 2004, Kementerian Pendidikan memberikan status resmi sebagai universitas penuh.

"Perusahaan multinasional di kawasan industri membutuhkan tenaga kerja yang terampil. Namun saat itu kondisi pendidikan tinggi di Indonesia belum benar-benar mampu menjawab tuntutan dunia industri tersebut," kata Setyono. 

Awalnya, kata Setyono, pihaknya sempat merumuskan model politeknik seperti yang diterapkan di kawasan serupa di Singapura yang dibangun lewat kolaborasi internasional dengan Jerman, Prancis, dan Jepang. "Namun keterbatasan sumber daya membuat kami mencari jalan lain, pilihannya, mendirikan universitas dengan jiwa vokasi. Bukan sekadar memberi gelar akademik, tapi menanamkan keterampilan praktis dan konsep economic survival sejak tahun pertama lewat program magang 1 hingga 2 semester, serta kehadiran dosen internasional," kata Setyono. 

Disiapkan sejak 1997, proses merintis terganggu krisis moneter 1998 yang mengguncang fondasi ekonomi dan menghentikan arus investasi asing. “Namun, jika industri belum siap datang, maka pendidikanlah yang harus lebih dulu bergerak,” katanya. 

Dalam buku yang ditulis Satrijo Tanudjojo itu dikupas korelasi antara pendidikan tinggi di Indonesia yang masih bergulat dengan realitas dunia kerja. Kini terdapat 14 jurusan yang mencakup berbagai bidang, mulai dari Teknik Industri hingga Hubungan Masyarakat. 

Buku "Kampus Meretas Batas" ini rencananya akan diterjemahkan ke bahasa Mandarin sebagai upaya menebar inspirasi tentang kolaborasi dunia pendidikan dengan perusahaan nasional maupun multinasional yaitu Unilever, Mattel, Samsung, Mulia, hingga ICI Paints. (X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Iis Zatnika
Berita Lainnya