Rektor Paramadina: Penutupan Prodi akan Reduksi Makna Pendidikan

Despian Nurhidayat
27/4/2026 12:22
Rektor Paramadina: Penutupan Prodi akan Reduksi Makna Pendidikan
Ilustrasi(Antara)

REKTOR Universitas Paramadina, Prof. Didik J Rachbini, menanggapi isu penutupan program studi yang tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Menurutnya, rencana ini mencerminkan visi jangka pendek mengikuti kehendak pasar dan industri.  

“Tidak salah karena industri memang memerlukan tenaga kerja yang terampil dengan keahlian teknis tertentu, tetapi cenderung mereduksi makna pendidikan dalam arti sebenarnya,” ungkapnya, Senin (27/4). 

Lebih lanjut, Didik menekankan bahwa pendidikan bukan sekadar menempa manusia untuk memiliki ketrampilan, tetapi merupakan proses holistik dan mendalam untuk mencapai proses ‘menjadi manusia’ seutuhnya. 

“Pendidikan adalah upaya ‘menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada diri manusia’ agar dia mencapai martabat, keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya, pendidikan bukan sekadar mengisi ilmu di kepala dan ketrampilan fisik tetapi membentuk manusia seutuhnya. Seorang manusia menjadi manusia seutuhnya melalui proses berpikir, merasakan, memilih nilai dan menjadi manusia yang bertanggung jawab. Pendidikan adalah ruang dan proses pembentukan itu,” tegasnya. 

Di sisi lain, pendikan tinggi khususnya, dikatakan memiliki peran yang tidak tergantikan, berbeda dengan institusi lain yang bisa sepenuhnya mengikuti logika pasar dan industri. 

Didik menekankan bahwa perguruan tinggi harus menjaga ruang bagi ilmu-ilmu yang mungkin belum memiliki ‘nilai ekonomi langsung’, tetapi memiliki nilai peradaban jangka panjang. 

“Jika pendidikan tinggi direduksi hanya menjadi penyedia keterampilan industri, maka kita sedang mempersempit makna pendidikan itu sendiri. Kita berisiko membentuk generasi yang terampil, tetapi tidak reflektif dan mungkin tuna nilai,  adaptif tetapi tidak visioner, produktif, tetapi tidak kreatif dalam arti yang paling mendasar,” ujar Didik. 

Dia menyadari bahwa ilmu murni atau ilmu dasar pada saat ini memang sedang tidak atau jauh kaitan urusannya dengan industri. Lebih jauh lagi, negara yang meninggalkan ilmu murni akan kehilangan kedaulatan intelektualnya. 

“Ia akan bergantung pada pengetahuan yang diproduksi di luar, menjadi konsumen teknologi, bukan pencipta, seperti yang kita rasakan sekarang. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya persoalan akademik, tetapi persoalan kemandirian bangsa,” urainya. 

Dia merasa bahwa Kemdiktisaintek seharusnya memiliki tugas visioner dengan menguatkan ekosistem, karena pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. 

“Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri,” pungkasnya. (Des/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya