Kenali Demam Tifoid, Penyakit Menular yang Bisa Berakibat Fatal Jika Terlambat Ditangani

Muhammad Ghifari A
27/4/2026 10:51
Kenali Demam Tifoid, Penyakit Menular yang Bisa Berakibat Fatal Jika Terlambat Ditangani
Ilustrasi(freepik)

DEMAM tifoid atau tifus merupakan penyakit infeksi serius yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi berkepanjangan, gangguan pencernaan, serta gejala mirip flu. Jika tidak segera ditangani, tifoid dapat mengancam jiwa.

Apa Itu Demam Tifoid?

Demam tifoid adalah infeksi bakteri yang menyerang saluran pencernaan dan dapat menyebar ke seluruh tubuh. Gejalanya biasanya berkembang secara bertahap dan bisa berlangsung selama berminggu-minggu.

Selain itu, seseorang yang sudah sembuh masih berpotensi menjadi pembawa bakteri tanpa gejala (carrier), sehingga tetap dapat menularkan penyakit ke orang lain.

Perlu diketahui, bakteri penyebab tifoid berbeda dengan jenis Salmonella lain yang menyebabkan keracunan makanan (salmonellosis).

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala tifoid umumnya muncul secara perlahan dan semakin memburuk. Beberapa tanda yang sering terjadi meliputi:

  • Demam tinggi yang meningkat bertahap
  • Sakit kepala dan menggigil
  • Nyeri perut
  • Kehilangan nafsu makan
  • Mual, muntah
  • Diare atau sembelit
  • Nyeri otot dan batuk
  • Ruam merah muda samar di dada atau perut

Demam biasanya menjadi gejala awal dan dapat berlangsung selama beberapa minggu jika tidak diobati.

Cara Penularan

Demam tifoid menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi bakteri. Penularan dapat terjadi ketika:

  • Makanan atau minuman terkontaminasi oleh penderita yang tidak mencuci tangan
  • Air tercemar limbah (tinja atau urin) dikonsumsi
  • Menyentuh benda yang terkontaminasi lalu menyentuh mulut

Bakteri ini hidup di usus penderita dan juga dapat menetap di kantung empedu tanpa menimbulkan gejala.

Kelompok Berisiko

Tifoid lebih sering ditemukan di daerah dengan sanitasi buruk dan akses air bersih terbatas, seperti di wilayah Afrika, Asia Selatan dan Tenggara, serta sebagian Amerika Latin.

Anak-anak juga diketahui lebih rentan terinfeksi dibandingkan orang dewasa.

Komplikasi Serius

Jika tidak ditangani dengan cepat, tifoid dapat menyebabkan komplikasi berat, antara lain:

  • Perdarahan internal
  • Kebocoran usus
  • Radang otak (ensefalitis) atau meningitis
  • Gangguan pernapasan seperti pneumonia
  • Gagal ginjal
  • Peradangan jantung
  • Risiko keguguran pada ibu hamil

Komplikasi biasanya muncul setelah satu hingga dua minggu sejak gejala awal.

Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosis dilakukan melalui pemeriksaan gejala, riwayat perjalanan, serta tes laboratorium dari sampel darah, tinja, atau urine. Pengobatan utama tifoid adalah antibiotik. Dalam kasus berat, pasien mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit serta terapi tambahan seperti kortikosteroid.

Jika ditangani sejak dini, pasien biasanya mulai membaik dalam beberapa hari dan pulih sepenuhnya dalam waktu sekitar 1–2 minggu.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksakan diri jika mengalami gejala tifoid, terutama setelah bepergian ke daerah endemis.

Segera ke unit gawat darurat jika muncul tanda serius seperti:

  • Demam sangat tinggi
  • Nyeri perut hebat
  • Muntah atau batuk darah
  • Feses berwarna hitam
  • Kebingungan atau kejang

Pencegahan

Langkah terbaik mencegah tifoid adalah melalui vaksinasi, terutama bagi yang tinggal atau bepergian ke daerah berisiko tinggi. Vaksin tersedia dalam bentuk suntikan maupun oral.

Selain itu, penting menjaga kebersihan dengan:

  • Mencuci tangan sebelum makan dan setelah dari toilet
  • Mengonsumsi makanan matang dan air bersih
  • Menghindari makanan atau minuman yang diragukan kebersihannya

Dengan pengobatan modern, sebagian besar penderita tifoid dapat sembuh total. Namun tanpa penanganan yang tepat, penyakit ini tetap memiliki risiko kematian sekitar 1%-2% dari total kasus setiap tahunnya. (Cleveland Hospital/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya