Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA berpuluh-puluh tahun, keberadaan larva pucat yang melingkar di dasar botol mezcal telah menjadi misteri sekaligus daya tarik bagi para pecinta minuman keras di seluruh dunia. Sering disebut sebagai "cacing", identitas asli makhluk kecil ini akhirnya terungkap melalui analisis genetik yang mendalam.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PeerJ Life & Environment mengungkapkan bahwa "cacing" tersebut sebenarnya bukanlah cacing, melainkan ulat dari spesies tunggal, ngengat merah agave (Comadia redtenbacheri). Temuan ini mematahkan spekulasi lama yang menduga adanya campuran berbagai spesies serangga di dalam botol minuman khas Meksiko tersebut.
Larva yang dikenal secara lokal sebagai gusanos de maguey ini sempat dikira sebagai larva kupu-kupu tequila giant skipper atau bahkan larva kumbang penggerek. Namun, Akito Kawahara, kurator di McGuire Center for Lepidoptera and Biodiversity, Florida Museum, bersama timnya melakukan pengujian DNA terhadap 18 spesimen dari berbagai merek mezcal di Oaxaca.
Hasilnya mengejutkan: seluruh sampel yang berhasil diuji secara genetik merujuk pada satu spesies yang sama. Adapun perbedaan warna yang sering ditemui, dari kemerahan menjadi putih pucat, diduga akibat proses pengawetan dalam alkohol dalam jangka waktu lama yang melunturkan pigmen alaminya.
"Secara garis besar relatif mudah menentukan jenis larva berdasarkan bentuk kepalanya, tetapi identitasnya tidak pernah dikonfirmasi sebelumnya. Ini mungkin karena sebagian besar ahli biologi tidak memeriksa ke dalam botol mezcal," ujar Kawahara.
Meskipun misteri identitasnya telah terpecahkan, popularitas mezcal yang terus meroket secara internasional membawa kekhawatiran baru: keberlanjutan ekosistem. Ulat ini tidak dibudidayakan secara komersial, melainkan dipanen langsung dari alam liar.
Masalahnya, ulat merah agave ini hidup dengan cara melubangi inti tanaman agave. Proses pemanenan serangga ini sering kali harus membunuh tanaman inangnya. Sebuah studi terbaru tahun 2025 dalam Botanical Sciences memperingatkan bahwa ekstraksi larva secara liar dapat mengurangi populasi agave hingga 57%.
"Ulat agave masih cukup umum ditemukan, tetapi dampak dari populernya mezcal dapat memberikan efek negatif jangka panjang pada populasi lokal karena mereka dipanen di alam liar," tambah Kawahara.
Tradisi memasukkan larva ke dalam botol mezcal sendiri sebenarnya baru dimulai pada 1940-an sebagai strategi pemasaran, jauh setelah tradisi produksi mezcal itu sendiri dimulai berabad-abad silam. Namun kini, ulat kecil tersebut telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas industri.
Kini, para produsen dan komunitas lokal di Meksiko menghadapi tantangan besar. Diperlukan metode pengelolaan panen liar yang lebih baik atau pengembangan budidaya larva di lahan pertanian khusus agar permintaan pasar yang tinggi tidak menghancurkan tanaman agave yang menjadi jantung ekonomi dan budaya mereka. (Science Daily/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved