UPF Dominasi Pola Makan Anak Indonesia, Risiko Kesehatan Meningkat

Media Indonesia
27/4/2026 00:37
UPF Dominasi Pola Makan Anak Indonesia, Risiko Kesehatan Meningkat
Ilustrasi(Dok Freepik)

POLA makan anak-anak Indonesia mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan meningkatnya konsumsi Ultra-processed food atau UPF. Fenomena ini menjadi perhatian global setelah sejumlah laporan menunjukkan bahwa tingkat konsumsi makanan ultra-proses pada anak Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia, khususnya pada kelompok usia dini.

Laporan dari UNICEF mengungkap bahwa anak usia 0–5 tahun di Indonesia memiliki paparan tinggi terhadap makanan ultra-proses, seperti camilan kemasan, minuman berpemanis, serta makanan instan. Produk-produk ini umumnya mengandung tambahan zat aditif seperti pengawet, pewarna, dan perisa buatan yang membuatnya lebih tahan lama namun rendah nilai gizi.

Perubahan ini tidak terlepas dari faktor sosial dan ekonomi. Urbanisasi yang cepat, meningkatnya aktivitas orang tua, serta kemudahan akses terhadap makanan siap saji menjadikan UPF sebagai pilihan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kemudahan tersebut berbanding lurus dengan meningkatnya risiko kesehatan pada anak.

Sejumlah studi di bidang Ilmu Gizi menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang tinggi berkaitan erat dengan peningkatan risiko obesitas pada anak. Penelitian di Indonesia menemukan hubungan signifikan antara frekuensi konsumsi makanan ultra-proses dengan kejadian kelebihan berat badan pada usia sekolah. Selain itu, UPF cenderung tinggi gula, garam, dan lemak, tetapi rendah serat, vitamin, dan mineral.

Data lain menunjukkan bahwa kontribusi UPF terhadap asupan energi harian masyarakat Indonesia terus meningkat, bahkan pada beberapa kelompok usia mencapai hampir setengah dari total kalori harian. Kondisi ini menunjukkan bahwa makanan ultra-proses telah menjadi bagian dominan dalam pola makan modern, termasuk pada anak-anak.

Dampak jangka panjang dari konsumsi UPF tidak hanya terbatas pada obesitas. Anak-anak yang terbiasa mengonsumsi makanan jenis ini juga berisiko mengalami gangguan metabolisme, penurunan kualitas gizi, hingga peningkatan potensi penyakit tidak menular di masa dewasa.

Para ahli menekankan pentingnya intervensi sejak dini. Edukasi kepada orangtua menjadi kunci dalam membentuk pola makan sehat anak. Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses dan menggantinya dengan makanan segar serta bergizi seimbang merupakan langkah utama yang disarankan.

Selain itu, kebijakan publik juga berperan penting. Regulasi terkait pelabelan pangan, pembatasan iklan makanan tidak sehat, serta kampanye gizi seimbang dinilai dapat membantu menekan konsumsi UPF pada anak.

Fenomena ini menjadi peringatan bahwa perubahan pola makan telah mencapai titik kritis. Tanpa langkah konkret, tingginya konsumsi UPF berpotensi berdampak pada kualitas kesehatan generasi mendatang. (Apuan Iskandar/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya