Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ANDA mungkin pernah melihat adegan dalam dokumenter alam liar di mana seekor predator laut tiba-tiba berhenti bergerak dan tampak seolah mati saat dibalikkan tubuhnya. Fenomena aneh ini dikenal sebagai tonic immobility atau respons lemas tonik.
Di dunia hewan, strategi "pura-pura mati" sering kali menjadi cara ampuh untuk melarikan diri dari pemangsa, seperti yang dilakukan oleh opossum, kelinci, hingga serangga. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan bahwa bagi hiu dan kerabatnya, perilaku ini mungkin memiliki alasan yang jauh berbeda dan mengejutkan.
Sebuah studi yang dipimpin oleh Joel H. Gayford dan Dr. Jodie L. Rummer dari James Cook University melakukan uji coba terhadap 13 spesies hiu, pari, dan satu spesies chimera (kerabat jauh hiu yang sering disebut hiu hantu).
Para peneliti secara perlahan membalikkan tubuh hewan-hewan ini di bawah air untuk melihat apakah mereka akan masuk ke dalam kondisi serupa trans di mana otot-otot mereka rileks dan pernapasan menjadi ritmis namun dalam.
Hasilnya cukup beragam namun konsisten di dalam satu spesies. Dari 13 spesies yang diuji, tujuh di antaranya menunjukkan respons lemas tonik yang nyata. Waktu yang dibutuhkan untuk "membeku" bervariasi, mulai dari hanya 7 detik pada hiu monyet (Mustelus mustelus) hingga 25 detik pada hiu sirip hitam.
Durasi mereka tetap diam pun berbeda-beda, ada yang hanya belasan detik hingga lebih dari dua menit. Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa perilaku ini bersifat tetap pada tingkat spesies; jika satu individu dari spesies tertentu bisa dihipnotis, maka semua anggota spesies tersebut kemungkinan besar juga bisa.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan mengajukan tiga hipotesis utama untuk menjelaskan mengapa hiu membeku saat terbalik.
- Strategi Anti-Predator (Pura-pura Mati)
Hipotesis ini menduga bahwa hiu membeku untuk mengelabui pemangsa agar mengira mereka sudah mati atau tidak layak dimakan. Namun, teori ini dianggap lemah karena predator seperti paus orca justru memanfaatkan kondisi ini untuk melumpuhkan hiu dengan mudah sebelum memakannya.
- Peran dalam Reproduksi
Teori ini muncul karena hiu jantan sering membalikkan tubuh betina saat proses perkawinan. Diduga, kondisi lemas ini berfungsi untuk mengurangi hambatan atau perlawanan dari betina. Sayangnya, data menunjukkan tidak ada perbedaan respons antara jantan dan betina, sehingga teori ini diragukan.
- Respons Terhadap Kelebihan Beban Sensorik (Sensory Overload)
Hipotesis ini menduga bahwa membalikkan tubuh hiu menyebabkan rangsangan ekstrem pada sistem saraf atau organ sensorik mereka. Hal ini memicu semacam "refleks mati total" atau pemutusan sirkuit saraf sementara sebagai reaksi dari otak yang kewalahan menerima stimulasi.
Jika perilaku ini tidak membantu mereka bertahan hidup atau bereproduksi, mengapa masih ada? Para peneliti mengusulkan penjelasan yang lebih sederhana: tonic immobility pada hiu adalah sebuah "peninggalan evolusi" atau plesiomorphic trait.
Ini adalah sifat yang diwariskan dari nenek moyang kuno ratusan juta tahun yang lalu. Seiring berjalannya waktu, banyak spesies yang mulai kehilangan kemampuan ini karena dianggap tidak lagi berguna atau bahkan berbahaya.
Menariknya, spesies yang kehilangan kemampuan ini cenderung merupakan hiu berukuran kecil yang tinggal di habitat kompleks seperti terumbu karang atau hutan kelp. Di lingkungan yang sempit dan penuh celah, menjadi lemas dalam posisi terbalik adalah ide buruk karena mereka bisa terjepit atau terluka.
Sementara itu, hiu yang hidup di laut terbuka tetap mempertahankan sifat ini karena risiko di lingkungan mereka tidak cukup besar untuk membuat seleksi alam menghapus perilaku tersebut. (Nadhira Izzati A/E-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved