Bioteknologi Kelautan Kunci Agromaritim Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045

Basuki Eka Purnama
26/4/2026 20:06
Bioteknologi Kelautan Kunci Agromaritim Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045
Ilustrasi--Petani memanen rumput laut hasil budidaya di Pantai Marina, Bantaeng, Sulawesi Selatan, Sabtu (11/1/2025).(ANTARA/Hasrul Said)

INDONESIA memiliki modal besar sebagai negara maritim dengan wilayah perairan yang mencakup lebih dari 70% total luas wilayahnya. Namun, potensi sumber daya hayati laut yang melimpah tersebut dinilai belum dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat ketahanan pangan dan industri nasional.

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Prof Kustiariyah, menegaskan bahwa bioteknologi kelautan merupakan kunci strategis untuk mewujudkan pembangunan agromaritim yang berkelanjutan. Hal tersebut disampaikannya dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada Sabtu (25/4/2026).

Menurut Prof Kustiariyah, peran bioteknologi sangat krusial dalam mengejar target pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan. Pemerintah mematok target pertumbuhan sebesar 7% per tahun, yang diharapkan meningkat hingga 15% pada 2045 demi menyongsong visi Indonesia Emas.

Transformasi Ekonomi Biru dan Blue Foods

Dalam paparannya, Prof Kustiariyah menekankan pentingnya implementasi ekonomi biru yang menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat dan kelestarian ekosistem. Bioteknologi berperan mengubah bahan mentah laut menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Salah satu inovasi yang menonjol adalah pengembangan konsep blue foods atau pangan biru. Konsep ini berfokus pada transformasi pangan lokal berbasis sumber daya laut yang kaya gizi untuk mengatasi masalah malnutrisi.

“Bioteknologi mampu mengubah sumber daya hayati laut menjadi produk inovatif seperti pangan, biomaterial, hingga pendukung sektor pertanian. Contohnya, kita bisa mengolah spirulina melalui fermentasi bakteri asam laktat untuk menghilangkan aroma amis, sehingga lebih mudah diterima masyarakat dalam bentuk beras analog atau minuman herbal,” jelasnya.

Empat Pilar Pengembangan Bioteknologi

Untuk mencapai target pembangunan agromaritim, Prof Kustiariyah merumuskan empat pilar utama pengembangan bioteknologi kelautan di Indonesia:

Pilar Utama Deskripsi & Contoh Implementasi
Transformasi Pangan Lokal Pengembangan produk gizi tinggi seperti tempe rumput laut dan beras analog spirulina.
Bioprospeksi Bahan Alam Eksplorasi senyawa aktif laut untuk kebutuhan farmasi dan industri (misal: antibiotik alami dari jamur laut).
Optimasi Biorefinery Produksi ramah lingkungan yang mengolah seluruh bagian sumber daya menjadi berbagai produk turunan.
Ekonomi Sirkular (Zero Waste) Pemanfaatan residu atau limbah alga menjadi bioetanol dan biostimulan pertanian.

Tantangan Hilirisasi dan Sinergi Lintas Sektor

Meski memiliki potensi besar, jalan menuju industrialisasi bioteknologi kelautan masih terjal. Prof Kustiariyah mengidentifikasi sejumlah tantangan utama, mulai dari aspek kebijakan, integrasi riset, hingga proses hilirisasi produk ke pasar.

Beberapa produk spesifik, seperti senyawa antibiotik dari jamur laut, memerlukan standar sterilitas tinggi yang hanya bisa dicapai melalui kolaborasi skala besar dengan pihak industri. Oleh karena itu, penguatan lembaga seperti Technology Transfer Office (TTO) menjadi sangat mendesak.

“Diperlukan sinergi lintas sektor untuk memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjadi produk siap pasar yang mendukung ekonomi nasional,” pungkasnya.

Dengan pendekatan terintegrasi ini, bioteknologi kelautan diharapkan menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan ekonomi maritim Indonesia yang tangguh. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya