Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, robot dibangun dengan satu tugas spesifik yang sulit diubah. Lengan robotik yang dirancang untuk mengangkat beban akan tetap melakukan hal itu selamanya. Jika tugasnya berubah, para insinyur harus merancang ulang mesin dari awal, sebuah proses yang memakan banyak waktu dan biaya.
Namun, sebuah inovasi dalam teknologi otot buatan mulai mendobrak batasan tersebut. Para peneliti berhasil mengembangkan sistem yang memungkinkan robot mengubah bentuknya, memperbaiki diri setelah mengalami kerusakan, bahkan materialnya dapat digunakan kembali untuk perangkat lain.
Sistem baru ini berbasis pada dielectric elastomer actuator (DEA), yakni material lunak yang dapat bergerak saat dialiri listrik. Teknologi DEA sebenarnya sudah digunakan pada fitur getar perangkat wearable atau pencapit robotik untuk benda halus.
Terobosan utamanya terletak pada penambahan material khusus yang bersifat padat pada suhu ruangan, namun berubah menjadi cair saat terpapar panas atau medan magnet. Kemampuan transisi fase inilah yang memungkinkan perangkat mengubah bentuk dan memprogram ulang fungsinya saat mesin sedang beroperasi.
Pada robot tradisional, pola elektroda bersifat tetap. Begitu dicetak, fungsinya terkunci. Sebaliknya, pada teknologi baru ini, elektroda dapat membelah, bergabung, dan bergerak secara tiga dimensi.
Artinya, satu robot yang sama dapat beralih fungsi dari mencapit, membengkok, hingga mengembang secara instan di jalur produksi tanpa perlu mengganti suku cadang. Fleksibilitas ini sangat krusial untuk lingkungan industri yang dinamis guna menekan waktu henti operasional (downtime).
Kerusakan fisik biasanya menjadi akhir bagi sebuah robot. Namun, sistem ini menawarkan solusi berbeda. Jika sebagian elektroda rusak, material di area tersebut akan mencair untuk menyambung kembali bagian yang putus atau dialihkan ke jalur lain. Robot pun tetap bisa bekerja tanpa harus dimatikan.
Selain itu, teknologi ini lebih ramah lingkungan. Material elektroda tidak perlu dibuang saat perangkat mencapai akhir masa pakainya; ia dapat diambil kembali dalam bentuk cair untuk digunakan pada sistem baru. Uji coba menunjukkan tingkat pemulihan material mencapai 91 persen dengan performa yang tetap konsisten.
Profesor Jeong-Yun Sun dari Seoul National University College of Engineering, yang juga salah satu penulis studi ini, menyatakan signifikansi temuan tersebut:
"Studi ini mewakili terobosan dalam mentransformasi elektroda yang secara tradisional statis dan pasif menjadi 'elemen hidup yang dapat diprogram' melalui inovasi dalam desain partikel dan polimer. Teknologi elektroda yang dapat menyembuhkan diri sendiri dan dikonfigurasi ulang bentuknya ini akan berfungsi sebagai landasan utama bagi robotika lunak generasi berikutnya yang berkelanjutan."
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini membuka peluang luas di berbagai bidang. Mulai dari layar yang bisa berubah bentuk secara real-time hingga robot penyelamat yang mampu memperbaiki diri di lingkungan ekstrem.
Dunia robotika kini bergeser dari mesin statis yang sekali pakai menuju sistem adaptif yang dapat berevolusi, pulih, dan terus bekerja dalam jangka panjang. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved