KEMAJUAN suatu bangsa tidak hanya ditentukan pembangunan fisik, tetapi juga kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan bangsa tersebut. Mencetak SDM unggulan yang sehat tak bisa lepas dari asupan gizi yang diberikan kepada anak sebagai calon penerus bangsa.
Menjelang Hari Gizi Nasional yang jatuh pada 28 Februari 2015, kita diingatkan kembali akan pentingnya asupan gizi bagi anak. Apalagi, Indonesia masih bergelut dengan permasalahan gizi anak.
Poin utama ermasalahan gizi anak di awal pada masa pertumbuhan anak. Masa itu merupakan masa genting yang akan memengaruhi kesehatan anak di masa depan. Selama 1.000 hari pertama kehidupan anak, orang tua disarankan untuk memberikan perhatian lebih dalam menjaga kadar asupan gizi.
"Gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak menentukan tumbuh kembang anak termasuk kecerdasannya di masa datang," ungkap pakar gizi masyarakat IPB Bogor Hardinsyah ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin.
Seribu hari pertama itu, sambung Hardinsyah, dihitung sejak 270 hari masa kehamilan hingga anak mencapai usia dua tahun. Selama masa tersebut, ibu hamil sebaiknya memperhatikan kebutuhan asupan gizi yang cukup. Hal itu dapat dilakukan dengan memperhatikan zat-zat yang dibutuhkan tubuh, seperti mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, mineral, vitamin, dan kalsium. "Umumnya ibu hamil sering mengalami kekurangan zat seperti kalsium, vitamin A, vitamin C, zat besi, dan asam folat," ujarnya.
Karena itu, ia menyarankan ibu hamil untuk mengonsumsi makanan disertai lauk-pauk seperti sayuran, buah-buahan, dan susu. Ibu hamil juga mesti memperhatikan berat badannya.
Hardinsyah menjelaskan normalnya ibu hamil mengalami kenaikan berat badan sebanyak 8-12 kg. Namun, jika Ibu hamil mengalami masalah kesehatan, ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan bidan atau dokter kandungan.
Beberapa penyakit yang kerap mengintai ibu hamil ialah anemia atau kurang darah dan kurang energi kronis. Masalah itu, lanjutnya, bisa dicegah dengan cara merencanakan dengan matang kehamilan.
"Ya, harusnya kehamilan direncanakan, jangan accidental, supaya sebelum hamil ibu bisa mulai memperbaiki gizi dulu. Jadi, ketika (ibu) hamil, gizi sudah baik," ungkapnya.
Pentingnya asupan gizi anak juga dirasakan Sindha Amilah, 24. Shinda yang melahirkan anak pertamanya pada 14 Februari silam mengaku sangat memperhatikan asupan gizi saat hamil.
Ia berupaya untuk mengonsumsi makanan sehat seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dilengkapi juga dengan susu. Namun, ia sempat mengalami kesulitan memenuhi asupan protein. "Sempet enggak mau makan ikan karena bau amis, tapi aku sadar makan ikan penting untuk memenuhi kebutuhan protein. Jadi, aku memilih ikan seperti salmon yang enggak begitu berasa baunya," ungkap Sindha.
Meskipun mengalami peningkatan berat badan, Shinda tidak khawatir. Ia paham bahwa konsumsi makanan yang cukup sangat dibutuhkan janin. Jika sebelumnya ia sempat melakukan diet, saat hamil Shinda berhenti diet karena tidak ingin mengganggu proses tumbuh janinnya.
Permasalahan gizi Shinda merupakan salah satu dari ibu yang sudah memiliki pemahaman mengenai pentingnya asupan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. Namun, masih banyak ibu yang belum mendapatkan pemahaman akan pentingnya asupan gizi pada anak.
Data yang diterbitkan Global Nutrition Report (GNR) 2014 menunjukkan masih banyak orangtua yang belum bisa memenuhi kebutuhan gizi anak. Terbukti Indonesia masih termasuk 17 negara di antara 117 negara yang saat ini memiliki masalah gizi, yakni anak pendek, kurus, dan berat badan berlebih. Bukan cuma itu, Indonesia termasuk 47 negara dari 122 negara yang memiliki masalah anak pendek (stunting) pada balita dan anemia pada ibu hamil (WUS).
Permasalahan gizi anak di Indonesia itu juga diakui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Mahari seperti yang dilansir dari Antara, beberapa waktu lalu. Menurut Puan, masalah gizi di Indonesia muncul karena berbagai faktor, yakni kemiskinan, kesehatan, pangan, pendidikan, air bersih, keluarga berencana, dan berbagai faktor lainnya.
"Karena itu, untuk mengurai permasalahan gizi ini, dibutuhkan kerja sama yang sinergis dari berbagai pihak," harap Puan.
Dengan kerja sama dari berbagai pihak, Puan berharap program 1.000 hari pertama kehidupan dapat lebih cepat tercapai sehingga akan melahirkan penerus bangsa yang berkualitas. (Fairuz/S-1)