IPB University Ungkap Cara Baru Lawan Penyakit Akuakultur tanpa Antibiotik, Hasilnya Begini!

Nadhira Izzati A
23/4/2026 18:05
IPB University Ungkap Cara Baru Lawan Penyakit Akuakultur tanpa Antibiotik, Hasilnya Begini!
IPB dorong strategi tanpa antibiotik untuk tekan penyakit akuakultur(Dok. Freepik)

IPB University mendorong perubahan strategi dalam pengendalian penyakit akuakultur, dari pendekatan kuratif berbasis antibiotik menuju langkah preventif berbasis imunologi.

Guru Besar Departemen Budi Daya Perairan IPB University, Prof Sri Nuryati, mengatakan perubahan pendekatan itu mendesak dilakukan di tengah besarnya ancaman penyakit terhadap sektor akuakultur global.

Berdasarkan data FAO 2025, produksi perikanan budi daya dunia telah mencapai 104,2 juta ton atau menyumbang 53% dari total produksi perikanan global. Namun, pertumbuhan tersebut dibayangi ancaman penyakit yang dapat menyebabkan tingkat kematian hingga 50–90% serta kerugian global mencapai 6 miliar dolar AS atau sekitar Rp103 triliun per tahun.

“Sudah saatnya pendekatan pengendalian penyakit bergeser dari pengobatan kuratif menggunakan antibiotik ke strategi preventif berbasis imunologi,” kata Sri dalam konferensi pers pra-orasi ilmiah, Kamis (23/4).

Menurut dia, penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan parasit tidak hanya menurunkan tingkat kelangsungan hidup organisme budi daya, tetapi juga memengaruhi kualitas produk dan keberlanjutan usaha.

Dampaknya, kata dia, juga bisa menjalar hingga ke sektor ekonomi mikro. Ia mencontohkan, warung tenda di Jabodetabek yang jumlahnya diperkirakan mencapai 15.000 unit memiliki kebutuhan ikan sekitar 150 ton per hari. Dengan asumsi harga ikan Rp30.000 per kilogram, nilai perputaran uang dari penjualan ikan di sektor tersebut dapat mencapai Rp4,5 miliar per malam.

“Kalau pasokan ikan terganggu akibat wabah penyakit, stabilitas ekonomi masyarakat di sektor kuliner juga ikut terancam,” ujarnya.

Sri menegaskan, penggunaan antibiotik dalam akuakultur kini tidak lagi bisa menjadi pilihan utama. Selain dibatasi melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2024, penggunaan antibiotik juga dinilai berisiko menimbulkan residu pada hewan dan lingkungan, meningkatkan resistensi mikroorganisme, serta memicu persoalan keamanan pangan.

Ia mencontohkan Norwegia sebagai negara yang berhasil mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik melalui program vaksinasi massal. Menurut dia, tren global saat ini bergerak ke penggunaan bahan yang lebih aman, seperti imunostimulan dan vaksin yang bersifat nonkimia.

Sebagai salah satu solusi, IPB mengembangkan ImunoFS Plus, yakni fitobiotik berbahan limbah tanaman yang dinilai murah, mudah diperoleh, dan tersedia melimpah. Dalam pengujian skala laboratorium pada udang vaname, suplementasi ImunoFS Plus disebut mampu meningkatkan bobot akhir, laju pertumbuhan harian, serta menurunkan rasio konversi pakan.

Hasil pengujian juga menunjukkan udang yang diberi dosis optimal memiliki tingkat kelangsungan hidup hingga 93,33%, jauh lebih tinggi dibanding kelompok kontrol positif yang hanya mencapai 43,33% saat diuji tantang dengan penyakit.

Selain itu, IPB juga mengembangkan vaksin DNA GP11 dan GP25 (MasKoiVac) untuk ikan mas dan ikan koi. Sri mengatakan vaksin generasi ketiga itu memiliki sejumlah keunggulan, antara lain tingkat keamanan tinggi, proses produksi yang cepat, respons imun yang kuat, serta biaya yang relatif terjangkau.

Ia juga menyebut penelitian IPB membuktikan bahwa udang dapat memiliki respons imun terlatih melalui konsep trained immunity, sekaligus mematahkan anggapan lama bahwa udang tidak bisa divaksin.

“Paradigma lama menganggap udang tidak bisa divaksin karena sistem pertahanannya nonspesifik dan tidak punya cell memory. Namun, penelitian kami membuktikan imunitas udang bisa dilatih sehingga mampu menanggapi infeksi setelah divaksin,” katanya.

Tak hanya itu, IPB juga mengembangkan konsep Transgenerational Immune Priming (TGIP) atau vaksinasi maternal. Melalui pendekatan ini, faktor kekebalan pada induk ikan dan udang dapat ditransfer ke telur dan larva, sehingga benih memiliki perlindungan sejak fase awal pertumbuhan.

Sri menegaskan, imunostimulasi dan vaksinasi akan menjadi fondasi penting bagi masa depan akuakultur yang lebih berkelanjutan. Selain mendukung keberlanjutan produksi dan efisiensi pakan, strategi tersebut juga dinilai penting untuk memastikan produk perikanan Indonesia aman bagi pasar ekspor maupun konsumsi domestik. 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya