Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KECERDASAN Buatan (AI) kini telah merambah ke berbagai lini kehidupan keluarga, mulai dari menyusun rencana makan hingga menjadi asisten belanja. Namun, sebuah laporan terbaru dalam jurnal Frontiers in Nutrition memberikan peringatan keras, saran diet berbasis AI sangat tidak akurat dan berbahaya bagi kesehatan remaja.
Penelitian di Turki menguji lima model AI populer, termasuk ChatGPT-4o dan Gemini 2.5 Pro, untuk menyusun 60 rencana diet bagi profil remaja. Hasilnya mengkhawatirkan. AI secara konsisten salah dalam menghitung kebutuhan kalori dan nutrisi. Rencana diet yang dihasilkan cenderung memberikan lemak berlebih dan karbohidrat yang jauh di bawah standar medis.
Masa remaja adalah fase kritis pertumbuhan. Kesalahan asupan nutrisi dapat berdampak fatal pada perkembangan fisik. Megan Hutchins, ahli diet klinis dari Eating Recovery Center, menyoroti AI gagal memahami kebutuhan energi remaja yang sebenarnya.
"Rencana makan yang dihasilkan AI untuk remaja secara sistematis kurang memberikan energi dan tidak sesuai untuk perkembangan mereka," ujar Hutchins. "Studi menemukan AI meremehkan kebutuhan energi sekitar 700 kalori per hari dan condong ke pola rendah karbohidrat serta tinggi lemak, yang tidak selaras dengan kebutuhan nutrisi remaja."
Selain masalah fisik, para ahli mengkhawatirkan dampak psikologis. Remaja yang sedang membentuk identitas dan citra tubuh sangat rentan terhadap bahasa instruksional AI. Kata-kata seperti "hindari makanan X" dapat disalahartikan sebagai "saya melakukan kesalahan," yang memicu ketidakpuasan terhadap tubuh dan perilaku makan menyimpang.
Data Pew Research Center pada Desember 2025 menunjukkan hampir dua pertiga remaja menggunakan chatbot, dengan 30% di antaranya menggunakannya setiap hari. Mengingat tingginya penggunaan ini, melarang AI secara total bukanlah solusi yang realistis.
Para ahli menyarankan orang tua untuk mendekati anak dengan rasa ingin tahu, bukan kepanikan. "Mulailah dengan bertanya apa yang mereka gunakan dan mengapa, karena motivasi itu penting," kata Ana Gardner dari platform Equip.
Orang tua perlu menjelaskan bahwa AI tidak dirancang untuk memahami riwayat kesehatan atau kondisi tubuh spesifik tiap individu. Alih-alih mengikuti hitungan algoritma, doronglah anak untuk mendengarkan sinyal lapar tubuh mereka sendiri dan menerapkan prinsip bahwa semua makanan bisa dinikmati secara seimbang tanpa rasa bersalah.
Orangtua diminta waspada jika melihat perubahan perilaku berikut pada anak:
Jika tanda-tanda ini muncul, segera konsultasikan dengan tenaga profesional seperti psikolog atau dokter spesialis anak daripada mengandalkan saran dari layar ponsel. (Parents/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved