6 Pilar Kesehatan Mental Positif Menurut Peneliti, Bukan Hanya Soal Bahagia!

Thalatie K Yani
22/4/2026 13:00
6 Pilar Kesehatan Mental Positif Menurut Peneliti, Bukan Hanya Soal Bahagia!
Ilustrasi(freepik)

SELAMA bertahun-tahun, definisi mengenai kesejahteraan mental (well-being) sering kali menjadi perdebatan panjang di kalangan ahli. Namun, sebuah terobosan baru berhasil merumuskan enam pilar inti yang mendefinisikan kesehatan mental yang positif. Studi ini menegaskan bahwa kesehatan mental bukan sekadar "absennya gangguan jiwa", melainkan sesuatu yang dibangun melalui tujuan hidup dan koneksi sosial.

Penelitian yang melibatkan spesialis dari 11 disiplin ilmu ini menggunakan metode Delphi untuk menyatukan berbagai perspektif yang sebelumnya tersebar. Hasilnya, muncul enam kategori utama yang disepakati oleh lebih dari 90% panel ahli sebagai inti dari kesejahteraan mental.

6 Pilar Utama Kesejahteraan Mental

Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Mental Health tersebut, berikut adalah elemen kunci yang mendefinisikan kesehatan mental seseorang:

  1. Makna dan Tujuan Hidup: Alasan yang membuat seseorang tetap melangkah meski menghadapi tantangan berat.
  2. Kepuasan Hidup: Bagaimana seseorang menilai kualitas hidupnya secara keseluruhan.
  3. Penerimaan Diri: Menghargai identitas diri, termasuk kelebihan dan kekurangan yang dimiliki.
  4. Koneksi: Rasa memiliki dan hubungan sosial yang bermakna dengan orang lain.
  5. Otonomi: Kemampuan untuk mengambil keputusan sendiri dan kendali atas pilihan hidup sehari-hari.
  6. Kebahagiaan: Perasaan positif yang dirasakan dalam menjalani rutinitas mingguan.

Profesor Lindsay Oades dari University of York Mumbai, yang memimpin dokumentasi ini, menjelaskan bahwa pemahaman bersama ini sangat krusial bagi kebijakan publik.

“Signifikansi nyata dari memiliki definisi kesejahteraan mental yang disepakati adalah bagaimana kita dapat menggunakannya dalam praktik, terutama bagaimana pemerintah mengukur kesejahteraan nasional, mendukung strategi kesehatan masyarakat, dan mendanai intervensi baru,” ujar Oades.

Membedakan 'Pemicu' dan 'Hasil'

Studi ini juga membuat batasan penting antara kondisi pendukung dan hasil akhir. Hal-hal seperti pendapatan, perumahan yang layak, dan kesehatan fisik dikategorikan sebagai "pemicu" (drivers), bukan definisi dari kesehatan mental itu sendiri.

Sebagai contoh, kenaikan gaji mungkin mengurangi stres, tetapi uang itu sendiri bukanlah tujuan hidup atau rasa memiliki. Dengan memisahkan antara penyebab dan hasil, para pemimpin kebijakan dapat lebih tepat dalam memilih apakah harus memperbaiki kondisi lingkungan atau mengajarkan keterampilan koping kepada masyarakat.

Penerapan di Sekolah dan Tempat Kerja

Kerangka kerja ini memberikan panduan praktis bagi berbagai sektor. Di sekolah, pendidik dapat fokus membangun koneksi siswa melalui keterampilan resolusi konflik, bukan sekadar memantau masalah perilaku. Sementara di tempat kerja, manajer dapat menguji apakah tunjangan yang diberikan benar-benar meningkatkan otonomi dan hubungan tim, atau hanya sekadar mengurangi keluhan.

Penting untuk diingat bahwa kesehatan mental dan gangguan jiwa adalah dua hal yang berbeda namun berkaitan. Seseorang yang tidak mengalami gejala depresi belum tentu memiliki tujuan hidup atau penerimaan diri yang kuat. Sebaliknya, penderita gejala mental yang berat tetap bisa memiliki hubungan sosial yang bermakna yang harus dilindungi selama proses pemulihan.

Meski kesepakatan para ahli ini memberikan arah yang lebih jelas, para peneliti menyadari bahwa definisi "hidup yang baik" dapat dipengaruhi oleh perbedaan budaya dan prioritas komunitas yang berbeda di seluruh dunia. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya