Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri belum menunjukkan tanda mereda. Kota-kota seperti Penang di Malaysia hingga Singapura masih menjadi tujuan utama, dengan alasan yang relatif seragam, yaitu pelayanan lebih cepat, tenaga medis yang komunikatif, serta pengalaman pasien yang dinilai lebih nyaman dan manusiawi.
Di tengah kondisi ini, rumah sakit dalam negeri menghadapi tantangan besar, yakni membangun kembali kepercayaan publik yang selama ini tergerus.
Persoalan ini bukan hanya soal teknologi atau kecanggihan alat medis. Dalam banyak kasus, pengalaman pasien justru menjadi faktor pembeda. Pasien datang tidak hanya membawa penyakit, tetapi juga rasa cemas, takut, bahkan trauma, sesuatu yang menuntut pendekatan lebih dari sekadar tindakan klinis.
"Pasien datang dengan rasa takut, cemas, bahkan trauma. Kalau tidak ditangani dengan empati, pengalaman buruk itu akan membekas. Pelayanan yang baik bukan tambahan, itu fondasi," ujar dr. Sekar Dewi Dinawati Tjindarbumi, Sp.THT-KL.
Kesadaran inilah yang mulai mendorong sejumlah rumah sakit untuk berbenah, termasuk Dharma Nugraha Hospital di Rawamangun, Jakarta Timur.
Rumah sakit ini bukan pemain baru. Didirikan pada 1996 oleh pasangan Dr. Med. H. Didid Tjindarbumi, F.I.C.S. dan Sylvia Tjindarbumi, institusi ini pernah dikenal luas, terutama dalam penanganan kanker. Sosok Didid bahkan dijuluki Pendekar Kanker Payudara, dengan rekam jejak pendidikan internasional dari Jerman, Jepang, India, hingga Inggris.
Namun perjalanan panjang itu sempat terhenti. Pada 2021, kedua pendirinya wafat akibat covid-19 dalam waktu yang hampir bersamaan. Kehilangan tersebut tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga membuat arah pengelolaan rumah sakit sempat goyah.
Tongkat estafet kemudian dipegang oleh putri sulung mereka, Sekar Dewi Dinawati Tjindarbumi, atau Dina. Di tangannya, rumah sakit tidak sekadar dilanjutkan, tetapi dibangun ulang.
"Saya menyebut langkah ini sebagai Dharma Nugraha Hospital reborn. Kita tutup buku lama, dan membuka lembaran baru," ujarnya.
Transformasi yang dilakukan tidak bersifat kosmetik. Masalah mendasar yang dihadapi saat itu adalah ketiadaan sistem yang terintegrasi. Operasional berjalan dengan niat baik, namun sangat bergantung pada individu, tanpa standar yang terdokumentasi dengan kuat.
"Dulu kami berjalan dengan niat baik, tapi tanpa sistem yang cukup kuat. Sekarang, setiap langkah punya arah, setiap proses punya standar, dan setiap orang tahu perannya," kata Dina.
Untuk menjawab tantangan tersebut, manajemen mengambil langkah strategis dengan menggandeng konsultan kesehatan Medivara pada pertengahan 2025. Kolaborasi ini menjadi titik balik dalam proses transformasi.
Bersama Medivara, pembenahan dilakukan dari fondasi: struktur organisasi diperjelas, tata kelola diperkuat, serta sistem operasional distandardisasi. Ketergantungan pada individu perlahan dikurangi, digantikan dengan pendekatan berbasis sistem yang lebih terukur.
Namun perubahan tidak berhenti di level manajemen. Budaya kerja juga ditata ulang. Lingkungan kerja yang sebelumnya berkembang secara natural diarahkan menjadi lebih profesional, terbuka, dan kolaboratif, tanpa ruang bagi praktik negatif seperti gosip internal maupun bullying.
Di sisi lain, pengalaman pasien ditempatkan sebagai pusat dari setiap perbaikan. Lini front office dilatih untuk lebih responsif dan hangat, tenaga keperawatan dibekali komunikasi empatik, sementara dokter didorong untuk tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga hadir secara manusiawi.
Pendekatan ini menjadi krusial, mengingat keunggulan rumah sakit luar negeri selama ini tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi juga pada kualitas interaksi dan kenyamanan pasien.
Transformasi juga terlihat secara fisik. Rumah sakit direnovasi dengan pendekatan desain yang lebih ramah dan tidak kaku, meninggalkan kesan 'menakutkan' yang sering melekat pada fasilitas kesehatan. Konsep yang lebih hangat dan 'homie' diharapkan mampu memberikan rasa tenang bagi pasien dan keluarga.
Dari sisi layanan, penguatan terus dilakukan. Selain mempertahankan fokus pada onkologi, rumah sakit ini menargetkan pengembangan Center of Excellence di bidang tersebut, sekaligus memperluas layanan ke berbagai spesialisasi lain seperti penyakit dalam, bedah, ortopedi, THT, jantung, psikiatri, serta ibu dan anak. Fasilitas penunjang seperti ICU, unit gawat darurat, laboratorium 24 jam, dan radiologi turut diperkuat.
"Kami berani bersaing. Masyarakat bisa buktikan sendiri. Rumah sakit dalam negeri bisa memberikan pelayanan premium yang efisien dan tulus, asal dijalankan dengan integritas," ujar Dina. (E-1)
Pelayanan kesehatan di rumah sakit daerah di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, akan menjadi prioritas pemerintah daerah ini.
Saat ini, fasilitas kesehatan maupun SDM kesehatan di Indonesia sudah sangat baik dan tidak kalah dengan rumah sakit di Malaysia maupun Singapura.
JCB meluncurkan program wisata medis eksklusif JCB pada Oktober 2023 yang menawarkan layanan pariwisata medis bagi kalangan premium Indonesia di Osaka, Jepang.
PB IDI terus mengupayakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat agar lebih memilih berobat di dalam negeri.
Menurut data survei yang dilakukan pada 2024, terdapat peningkatan hampir dua kali lipat dalam jumlah pasien yang melakukan perjalanan ke luar negeri dibandingkan pada 2022.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved