Di Busan Korea, Untar Kolaborasi Konferensi Internasional, Dorong Masa Depan Berkelanjutan

Syarief Oebaidillah
21/4/2026 21:11
Di Busan Korea, Untar Kolaborasi Konferensi Internasional, Dorong Masa Depan Berkelanjutan
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Di Busan, Korea Selatan, Universitas Tarumanagara (Untar) menegaskan perannya dalam jejaring akademik global melalui penyelenggaraan International Conference on Economics, Business, Social and Humanities (ICEBSH) 2026 yang berlangsung bersamaan dengan International Conference on Applied Science, Technology, and Engineering (ICASTE) 2026, awal bulan ini. Kegiatan yang mengusung tema “People, Planet and Technology: Building Resilient Futures for Sustainable Development” ini berlangsung secara hibrida serta berkolaborasi dengan Kun Shan University, Taiwan, dan Pusan National University, Korea Selatan, yang juga bertindak sebagai tuan rumah. Melalui tema tersebut, konferensi ini menjadi ruang strategis yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk merumuskan solusi lintas disiplin terhadap tantangan global.

Melalui keterangan resmi yang diterima Media Indonesia hari ini, Rektor Untar Prof. Dr. Amad Sudiro, saat membuka kegiatan mengutarakan tema yang diangkat mencerminkan urgensi peran bersama dalam menghadapi masa depan. Ia menekankan masa depan sangat bergantung sikap manusia mampu merawat sesama, menjaga kelestarian planet, serta memanfaatkan teknologi secara bijak. Rektor Amad menyoroti bahwa dunia saat ini bergerak sangat cepat, menghadirkan tantangan sekaligus peluang yang perlu direspons secara kolaboratif. Melalui sinergi lintas bidang ekonomi, ilmu sosial, dan teknik diharapkan dapat lahir solusi yang tidak hanya inovatif, juga praktis dan berkelanjutan.

Ia juga mendorong seluruh peserta untuk aktif berbagi gagasan, saling belajar, serta membangun kolaborasi yang kuat. Menurutnya, kerja sama global menjadi kunci dalam menciptakan masa depan yang lebih tangguh dan berdaya saing. Hadir sebagai pembicara utama Dr. Riela Provi Drianda dari Tokyo City University, Dr. Linda Lin-chin Lin dari Kun Shan University, Prof. Dr. Kuldeep K. Saxena dari Galgotias University dan Prof. Ju-chul Jeong dari Pusan National University.

Kolaborasi

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untar Dr. Hetty Karunia Tunjungsari, S.E., M.Si. menegaskan bahwa konferensi ini diharapkan melampaui batas diskursus akademik. “Kami berharap kontribusi ilmiah dalam ICEBSH dan ICASTE 2026 tidak hanya memperkaya wacana akademik, juga menghasilkan pengetahuan yang dapat diimplementasikan dalam kebijakan publik, praktik industri, serta mendorong pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya. Ditambahkannya, kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin menjadi kunci dalam menjawab kompleksitas tantangan global saat ini, serta menilai konferensi ini berperan sebagai katalis bagi terciptanya dialog yang bermakna, riset yang berdampak, dan kolaborasi yang berkelanjutan.

Perspektif Global

Pada sesi pleno, empat pembicara internasional menyampaikan gagasan strategis yang memperkaya perspektif peserta. Dr. Riela Provi Drianda menekankan bahwa pelestarian budaya perlu bertransformasi agar tetap relevan, dengan budaya populer sebagai jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan warisan budaya sekaligus memperluas jangkauan melalui media modern. Sementara itu, Dr. Linda Lin-chin Lin menegaskan bahwa keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan teknologi menjadi fondasi utama pembangunan berkelanjutan, di mana teknologi harus meningkatkan kualitas hidup tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Prof. Dr. Kuldeep K. Saxena menyoroti bahwa persoalan limbah elektronik dan mikroplastik merupakan tantangan global yang membutuhkan solusi kolaboratif dengan tetap mengedepankan tanggung jawab lingkungan. Adapun Prof. Ju-chul Jeong menekankan pentingnya pembangunan urban yang berkelanjutan dan adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

"Penyelenggaraan ICEBSH dan ICASTE 2026 ini diharapkan dapat menciptakan sinergi antara bidang sosial-humaniora dan sains-teknologi dalam satu platform kolaboratif, sekaligus membuka peluang kerja sama riset lintas negara yang lebih luas,” tukas Ketua Pelaksana Konferensi Nadia Ayu Rahma Lestari.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya