Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA perubahan emosi yang kerap dialami perempuan saat memasuki masa menstruasi sering kali disalahpahami sebagai sekadar suasana hati yang buruk. Namun, pakar kesehatan jiwa menegaskan bahwa kondisi ini merupakan proses biologis nyata yang melibatkan dinamika rumit di dalam otak.
Psikiater Elvine Gunawan (Sp.KJ) menjelaskan bahwa fluktuasi emosi tersebut berakar pada perubahan kadar hormon estrogen dan progesteron. Ketidakseimbangan hormon ini berdampak langsung pada kinerja neurotransmiter, yakni zat kimia otak yang mengatur stabilitas perasaan.
“Ketika memasuki awal menstruasi, kadar estrogen cenderung menurun. Kondisi ini memengaruhi serotonin dan dopamin, sehingga perempuan bisa merasa jauh lebih sensitif atau emosional,” ujar Elvine dilansir dari Antara, Selasa (21/4).
Lebih lanjut, Elvine memaparkan bahwa penurunan hormon tersebut membuat otak perempuan menjadi lebih peka terhadap stimulus eksternal. Berdasarkan sejumlah riset, perempuan pada fase awal menstruasi cenderung lebih reaktif terhadap ekspresi wajah atau respons sosial orang lain.
Hal ini menyebabkan interaksi yang sebenarnya bersifat netral dapat dipersepsikan secara negatif atau terasa lebih tajam. Inilah yang sering memicu konflik interpersonal jika lingkungan sekitar tidak memahami kondisi biologis tersebut.
“Empati tidak cukup dalam bentuk kata-kata. Perlu tindakan nyata dan pemahaman bahwa ini adalah proses biologis yang dialami setiap perempuan,” tegas Elvine Gunawan.
Elvine menyayangkan masih kuatnya stigma negatif di masyarakat yang melabeli perempuan sebagai sosok yang "mudah marah" atau "tidak stabil" saat haid. Padahal, begitu fase menstruasi berlalu dan kadar estrogen kembali naik, kondisi neurotransmiter akan membaik dan emosi kembali stabil.
Ia menekankan pentingnya dukungan dari lingkungan terdekat, terutama pasangan dan keluarga. Komunikasi yang terbuka dan edukasi sejak dini di lingkungan rumah menjadi kunci utama untuk menghapus stigma dan menciptakan ruang yang lebih sehat bagi perempuan.
Perubahan emosi saat menstruasi bukanlah sebuah kelemahan, melainkan bagian dari mekanisme tubuh yang kompleks. Memahami sains di baliknya diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap siklus alami perempuan ini. (Z-10)
Sampel tersebut, disebut sebagai "Sapphire Canyon”. Diambil pada tahun lalu dari sebuah batu bernama Cheyava Falls. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved