Peneliti Ungkap Fenomena "Mahkota Cahaya" di Puncak Pohon Saat Badai Petir

Thalatie K Yani
21/4/2026 11:30
Peneliti Ungkap Fenomena
Gambar menunjukkan lucutan korona positif (kiri) dan negatif dari badai pada cabang pohon cemara di lingkungan yang hampir gelap gulita di laboratorium meteorologi dan ilmu atmosfer di Penn State.(William Brune / Penn State.)

SELAMA ini, badai petir identik dengan kilatan cahaya yang menyilaukan dan suara guntur yang menggelegar. Namun, sebuah studi terbaru dari Universitas Penn State mengungkap adanya fenomena lain yang selama ini luput dari mata manusia: pendaran cahaya redup yang menari-nari di puncak pepohonan saat badai melintas.

Fenomena ini disebut sebagai Corona Discharge atau lucutan korona, sebuah percikan listrik lemah yang terbentuk di ujung daun saat medan listrik badai menumpuk di atas hutan. Meski teorinya telah diperdebatkan selama hampir 100 tahun, ini adalah kali pertama ilmuwan berhasil membuktikan keberadaannya langsung di alam liar.

"Ini membuktikan bahwa sains penemuan masih terus berjalan. Selama lebih dari setengah abad, para ilmuwan telah berteori bahwa korona itu ada, dan ini membuktikannya," ujar P.J. McFarland, penulis utama studi tersebut.

Sepupu Petir yang "Pemalu"

Berbeda dengan petir yang keras dan panas, korona adalah kebocoran listrik yang lembut dan dingin. Karena pendarannya berada dalam spektrum cahaya ultraviolet (UV), fenomena ini hampir tidak terlihat oleh mata telanjang manusia.

Cahaya ini merembes tenang dari titik-titik tajam, seperti ujung jarum pinus atau tepi daun yang bergerigi. Untuk menangkap momen ini, tim peneliti membangun instrumen khusus yang dilengkapi teleskop dan kamera UV yang mampu mendeteksi cahaya pada panjang gelombang 255 hingga 273 nanometer, rentang cahaya yang biasanya terhalang oleh lapisan ozon sehingga tidak ada gangguan dari cahaya matahari.

Seluruh Hutan Berpijar Senyap

Saat badai melintasi Pembroke, North Carolina, kamera tersebut menangkap ratusan kilatan UV kecil yang berpindah-pindah dari daun ke daun di pohon sweetgum dan pinus loblolly. Kejutan terbesarnya adalah betapa meratanya pendaran tersebut. Setiap cabang yang diamati tampak "bernyanyi" dalam cahaya.

"Hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi instrumen kami memberikan visi tentang hamparan korona yang berkelap-kelip saat badai petir lewat di atas kepala," kata McFarland.

Tim peneliti juga merekam aktivitas serupa di empat wilayah lain, mulai dari Florida hingga Pennsylvania, pada jenis pohon yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa hampir setiap puncak pohon di bawah badai petir sebenarnya sedang berpijar secara sunyi.

Dampaknya Bagi Atmosfer dan Hutan

Penemuan yang diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters ini penting karena tiga alasan utama:

  1. Pembersih Udara Alami: Korona menghasilkan molekul radikal hidroksil dalam jumlah besar. Molekul ini berfungsi sebagai "sabun" atmosfer yang membersihkan polutan dan hidrokarbon dari udara hutan.
  2. Kerusakan Daun: Secara perlahan, korona dapat membakar ujung halus daun. Jika badai sering terjadi, kerusakan ini dapat terakumulasi dan memengaruhi kesehatan pohon.
  3. Pengaruh Terhadap Badai: Partikel bermuatan yang dilepaskan oleh korona dapat memberikan energi balik ke badai itu sendiri, yang secara halus memengaruhi perilaku badai tersebut.

Seiring perubahan iklim yang memicu lebih banyak badai petir, pendaran misterius di puncak hutan ini diprediksi akan semakin terang dan memainkan peran yang lebih besar dalam kesehatan atmosfer kita. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya