Siswa BINUS SCHOOL Simprug Suarakan Kebebasan Berekspresi Melalui Pementasan Teater

Syarief Oebaidillah
18/4/2026 23:15
Siswa BINUS SCHOOL Simprug Suarakan Kebebasan Berekspresi Melalui Pementasan Teater
Ilustrasi(Dok Istimewa)

Para siswa BINUS SCHOOL Simprug, Jakarta, kembali menunjukkan kreativitas mereka dengan menghadirkan pementasan teater tahunan bertajuk “Seen, Not Heard” yang digelar di MNC Jakarta Concert Hall, Jumat (17/4). Pementasan ini merupakan hasil inisiatif dan kerja kolektif siswa dalam membangun ruang ekspresi mereka sendiri, sehingga ide, emosi, dan perspektif dapat hadir secara utuh di atas panggung.

Dalam produksi ini, ratusan siswa terlibat secara aktif tidak hanya sebagai pemeran, tetapi juga dalam proses kreatif di balik layar, mulai dari pengembangan cerita, penulisan naskah, penyutradaraan, hingga manajemen panggung. Mereka juga berperan dalam eksplorasi karakter hingga eksekusi pertunjukan yang dilakukan secara kolaboratif.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pementasan kali ini mengangkat genre distopia yang lebih kompleks dan provokatif. Pementasan “Seen, Not Heard” mengisahkan dunia tanpa musik melalui tokoh Nancy, putri seorang wali kota, yang dihadapkan pada dilema antara ketaatan dan kebebasan berekspresi setelah bertemu Michael, seorang musisi yang menentang aturan tersebut. Sebagai penggagas konsep acara dan cerita, produksi ini dipimpin oleh tim inti siswa, yaitu Emily (Producer dan Choreographer), Leala (Director), Chelsea (Co-Director), Andi (Co-Producer dan Co-Choreographer), Alleisia (Co-Producer), Michelle (Creative Director), Zahra (Marketing), serta Raphael (Finance).

Theatre Producer dan Choreographer, Emily, mengatakan, “Kami mencoba menghadirkan cerita yang lebih emosional dan relevan. Proses ini bukan hanya tentang menghasilkan pertunjukan, tetapi juga tentang bagaimana siswa mampu memahami dan menyampaikan pesan yang kuat kepada audiens.” Tema kebebasan berekspresi ini juga terasa kuat selama proses produksi. Co-Producer, Alleisia, turut berbagi, “Dalam persiapannya, kami belajar bahwa setiap tantangan di balik layar adalah proses untuk mendewasakan diri. Kami tidak hanya belajar membuat pertunjukan, tetapi juga belajar untuk saling percaya dan tumbuh bersama sebagai satu tim.”

Melalui proses ini, para siswa tidak hanya menampilkan sebuah karya, tetapi juga membuktikan kemampuan mereka dalam mengelola produksi berskala besar secara mandiri. Tantangan dalam mengoordinasikan berbagai aspek dari konsep kreatif hingga pelaksanaan acara menjadi bagian penting dari pembelajaran yang mereka alami secara langsung.

Proses ini juga didukung lingkungan belajar di BINUS SCHOOL Simprug yang mendorong siswa untuk bereksplorasi dan berekspresi secara bebas dalam mengembangkan kreativitas siswa. Melalui pendekatan personalized learning, siswa diberikan ruang untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan potensi terbaik mereka.

“Kegiatan ini menjadi proses pembelajaran yang mendalam bagi siswa. Melalui rangkaian latihan dan produksi, mereka belajar untuk bekerja sama, berpikir kritis, serta berani menyampaikan ide dan perspektif mereka," kata Isaac Koh, Principal of BINUS SCHOOL Simprug melalui keterangannya hari ini. Dikatakannya, BINUS SCHOOL Simprug percaya bahwa masa depan dibentuk oleh mereka yang berani berpikir, mencipta, dan menyuarakan ide. Melalui lingkungan yang suportif, setiap siswa didorong untuk tidak hanya tampil, tetapi juga menemukan dan mengembangkan suara mereka sendiri. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya