Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI para pegiat olahraga atau sport enthusiast, rasa nyeri setelah beraktivitas fisik sering kali dianggap sebagai pencapaian atau bukti latihan yang efektif. Namun, prinsip "no pain, no gain" tidak selalu benar. Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Zeth Boroh, mengingatkan pentingnya mengenali perbedaan antara nyeri otot yang wajar dan nyeri yang mengarah pada cedera olahraga.
Menurut dr. Zeth, nyeri otot setelah berolahraga secara umum terbagi menjadi beberapa kategori, di antaranya adalah kram dan Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS).
Kram Otot terjadi akibat kontraksi otot secara mendadak yang menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan seketika. Sementara itu, DOMS adalah nyeri yang biasanya baru terasa dalam kurun waktu 12 hingga 24 jam setelah sesi latihan berakhir.
Indikator utama untuk membedakan nyeri ini dengan cedera (injury) adalah durasinya. Nyeri otot yang tergolong wajar biasanya akan mereda dan hilang dalam waktu satu hingga dua hari.
"Kalau nyerinya cuma 1-2 hari, itu kram atau DOMS. Tapi, kalau nyeri berlangsung terus-menerus lebih dari tiga hari, itu dinilai tidak wajar dan merupakan tanda injury," ujar dr. Zeth dalam sebuah pertemuan media di Jakarta.
Banyak orang sering kali memaksakan diri untuk tetap berlatih meskipun merasakan nyeri. Padahal, rasa nyeri adalah sinyal alarm dari tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak beres. dr. Zeth menekankan bahwa nyeri merupakan gejala paling umum dari cedera, bahkan untuk tingkat yang ringan sekalipun.
Jika Anda merasakan nyeri saat sedang berolahraga, langkah terbaik adalah segera berhenti dan tidak memaksakan diri untuk melanjutkan latihan. Memaksakan otot yang sudah nyeri hanya akan memperparah kondisi cedera tersebut.
Bagi Anda yang mengalami nyeri otot setelah berolahraga, dr. Zeth menyarankan beberapa langkah penanganan mandiri yang bisa dilakukan di rumah, yakni kompresi menggunakan kinesio taping atau metode kompresi lainnya pada bagian yang nyeri, pemberian painkiller baik secara oral (diminum) maupun topikal (salep/gel) yang tersedia bebas, dan memberikan waktu bagi jaringan otot untuk melakukan pemulihan (recovery).
Dengan mengenali batasan tubuh dan memberikan penanganan yang tepat, risiko cedera jangka panjang dapat diminimalisir, sehingga aktivitas olahraga tetap memberikan manfaat kesehatan yang optimal tanpa merusak tubuh. (Ant/H-3)
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dr. Zeth Boroh menjelaskan pentingnya menangani inflamasi pada cedera olahraga agar tidak menjadi kronis.
Heat stroke membuat suhu tubuh di atas 40 derajat celcius.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved