Sinyal “Laser” dari Alam Semesta Awal Tertangkap, Berasal dari 8 Miliar Tahun Cahaya

Media Indonesia
16/4/2026 22:49
Sinyal “Laser” dari Alam Semesta Awal Tertangkap, Berasal dari 8 Miliar Tahun Cahaya
Ilustrasi cakram gas pembawa air yang mengorbit lubang hitam supermasif di inti galaksi yang jauh. Dengan mengamati emisi maser dari cakram tersebut.(Dok S.Dagnello)

TIM astronom internasional melaporkan penemuan sinyal cahaya intens menyerupai “laser” kosmik yang berasal dari jarak sekitar 8 miliar tahun cahaya dari Bumi. Fenomena ini menjadi salah satu deteksi paling jauh dari emisi terfokus di alam semesta dan membuka wawasan baru tentang kondisi galaksi pada masa awal pembentukannya.

Sinyal tersebut bukan laser dalam arti konvensional, melainkan maser kosmik, yaitu fenomena penguatan gelombang mikro secara alami di ruang angkasa. Berbeda dengan laser yang bekerja pada spektrum cahaya tampak, maser memancarkan radiasi gelombang mikro yang diperkuat oleh kondisi ekstrem, seperti kepadatan gas tinggi dan suhu tertentu di lingkungan galaksi.

Deteksi ini dilakukan menggunakan teleskop radio berpresisi tinggi, termasuk fasilitas seperti Atacama Large Millimeter/submillimeter Array dan Very Large Array. Instrumen tersebut memungkinkan ilmuwan menangkap sinyal lemah dari objek yang sangat jauh, bahkan ketika cahaya tersebut telah menempuh perjalanan selama miliaran tahun.

Berdasarkan analisis awal, sumber maser ini diduga berasal dari aktivitas lubang hitam supermasif di pusat galaksi. Ketika gas dan debu jatuh ke dalam cakram akresi di sekitar lubang hitam, energi besar yang dihasilkan dapat menciptakan kondisi ideal untuk memperkuat gelombang mikro menjadi pancaran terarah dengan intensitas sangat tinggi.

Fenomena ini dikenal sebagai megamaser karena energinya jauh lebih besar dibandingkan maser biasa yang ditemukan di galaksi lokal. Intensitasnya yang tinggi memungkinkan sinyal tetap terdeteksi meskipun berasal dari jarak ekstrem.

Selain menjadi fenomena menarik, megamaser juga berperan penting dalam penelitian kosmologi. Dengan memanfaatkan prinsip Efek Doppler, ilmuwan dapat mengukur kecepatan gerak gas dan menentukan massa objek pusat galaksi, termasuk lubang hitam, serta memperkirakan jarak kosmik dengan lebih akurat.

Penemuan ini menunjukkan bahwa kondisi fisik yang mendukung pembentukan maser ekstrem telah ada sejak miliaran tahun lalu. Hal ini mengindikasikan bahwa proses pembentukan galaksi aktif dan pertumbuhan lubang hitam supermasif terjadi lebih awal dari yang selama ini diperkirakan.

Para peneliti berharap temuan ini dapat memperkaya pemahaman tentang evolusi galaksi dan dinamika alam semesta awal. Observasi lanjutan akan dilakukan untuk menemukan lebih banyak sumber serupa dan mengungkap karakteristik lingkungan kosmik ekstrem di masa lalu. (Apuan Iskandar/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya