ASI Eksklusif Beri 'Stempel' pada Aktivitas Gen Anak

Thalatie K Yani
17/4/2026 11:00
ASI Eksklusif Beri 'Stempel' pada Aktivitas Gen Anak
Ilustrasi(freepik)

PEMBERIAN Air Susu Ibu (ASI) selama ini dikenal luas sebagai nutrisi terbaik untuk mendukung pertumbuhan dan daya tahan tubuh bayi. Namun, sebuah studi internasional skala besar dari University of Exeter mengungkap bahwa manfaat ASI merasuk lebih dalam hingga ke level molekuler.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Epigenetics ini menunjukkan pemberian ASI eksklusif selama setidaknya tiga bulan berkaitan erat dengan perubahan kecil pada cara kerja gen anak. Fenomena ini tidak mengubah kode genetik dasar, melainkan memengaruhi "sakelar" yang menentukan bagaimana kode tersebut digunakan oleh tubuh.

Epigenetik: Memahami 'Sakelar' Tubuh

Fokus utama penelitian ini adalah metilasi DNA, bagian kunci dari epigenetik. Proses ini melibatkan penempelan tag kimia kecil pada DNA yang berfungsi sebagai sakelar untuk meningkatkan atau mengurangi aktivitas gen tertentu.

Melalui analisis sampel darah dari ribuan anak berusia 5 hingga 12 tahun, tim peneliti menemukan pola perbedaan pada sejumlah titik DNA anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif. Perubahan ini menariknya tidak ditemukan dalam darah tali pusat saat lahir, yang mengindikasikan bahwa perubahan tersebut muncul setelah proses menyusui dimulai, bukan karena faktor keturunan.

Dampak pada Sistem Imun dan Pertumbuhan

Titik-titik DNA yang mengalami perubahan tersebut berkaitan dengan gen yang mengatur perkembangan sel dan fungsi imun. Meski perubahan yang diamati tergolong kecil, seringkali kurang dari 1%, dalam dunia epigenetik, pergeseran tipis ini dianggap sebagai respons biologis yang bermakna.

Beberapa gen yang teridentifikasi dalam studi ini sebelumnya telah dikaitkan dengan ciri-ciri seperti ukuran tubuh, peradangan, dan fungsi kognitif.

"Temuan kami menunjukkan bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif membawa perubahan epigenetik yang terkait dengan pengalaman tersebut," ujar Dr. Doretta Caramaschi, salah satu penulis studi tersebut. "Gen yang dipengaruhi oleh penanda ini terlibat dalam proses perkembangan dan imunitas, namun kami tidak dapat memastikan dari studi ini apakah hal itu memengaruhi proses yang sangat kompleks tersebut secara langsung."

Pentingnya Penafsiran yang Bijak

Meskipun hasil riset ini memberikan perspektif baru tentang bagaimana manfaat ASI bekerja, para ilmuwan menekankan perlunya kehati-hatian dalam menafsirkan data. Studi ini bersifat observasional dan belum membuktikan bahwa perubahan DNA tersebut secara langsung menyebabkan peningkatan kesehatan jangka panjang.

"Hasil kami baru dan menarik, namun kami perlu menafsirkannya dengan hati-hati," catat Dr. Mariona Bustamante dari ISGlobal. "Studi kami dirancang secara kolaboratif dan internasional, namun kami perlu mempelajari kelompok yang lebih beragam untuk memahami biologi ini sepenuhnya."

Riset ini membuka jalan bagi penelitian masa depan untuk melacak apakah jejak epigenetik ini akan bertahan hingga dewasa dan bagaimana pengaruhnya terhadap risiko penyakit di masa depan. Untuk saat ini, temuan tersebut semakin memperkuat teori bahwa nutrisi awal kehidupan bukan sekadar asupan makanan, melainkan faktor krusial yang membentuk sistem internal tubuh saat anak tumbuh dewasa. (Earth/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya