Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM dunia medis, halusinasi suara biasanya dianggap sebagai gejala gangguan jiwa berat. Namun, sebuah kasus medis luar biasa di Inggris menantang logika tersebut: suara-suara di dalam kepala seorang pasien justru menjadi "pahlawan" yang mendiagnosis tumor otaknya sendiri.
Kisah ini bermula saat seorang perempuan berusia 40-an tengah membaca. Tiba-tiba, ia mendengar suara asing yang berkata, "Tolong jangan takut. Saya tahu ini mengejutkan, tapi ini cara termudah yang bisa saya pikirkan. Saya dan teman saya dulu bekerja di Rumah Sakit Anak, Great Ormond Street, dan kami ingin membantu Anda."
Awalnya, wanita tersebut ketakutan dan mengira dirinya mengalami krisis kesehatan mental. Suara tersebut kemudian memberikan tiga informasi yang tidak diketahui si perempuan dan memintanya untuk mengecek kebenarannya. Setelah diperiksa, semua informasi tersebut ternyata akurat.
Ia segera menemui dokter dan dirujuk ke klinik psikiatri dengan diagnosis functional hallucinatory psychosis, gangguan realitas tanpa penyebab fisik yang jelas. Ia pun mulai mengonsumsi obat antipsikotik, thioridazine.
Namun, meski pengobatan sempat meredam suara tersebut, "insting" suara itu kembali saat ia sedang berlibur. Suara itu mendesaknya untuk segera pulang dan memberikan sebuah alamat rumah sakit yang memiliki fasilitas pemindaian CT (CT Scan). Suara itu menegaskan bahwa ia memiliki tumor otak.
Meski awalnya dianggap berlebihan oleh pihak rumah sakit karena tidak ada gejala klinis, pemindaian otak akhirnya dilakukan untuk menenangkan sang pasien. Hasilnya mengejutkan: ditemukan tumor jenis parafalcine meningioma sebesar 6,4 cm x 3,8 cm yang tumbuh di antara dua belahan otak.
Menariknya, saat tim bedah merekomendasikan operasi, suara-suara tersebut kembali muncul dan menyatakan bahwa mereka "sepenuhnya setuju dengan keputusan itu."
Sesaat setelah operasi pengangkatan tumor berhasil dan pasien sadar kembali, suara tersebut menyampaikan pesan terakhir: "Kami senang telah membantu Anda. Selamat tinggal."
Sejak saat itu, suara tersebut benar-benar menghilang. Dua belas tahun kemudian, pasien melaporkan bahwa ia tetap bebas gejala tanpa perlu mengonsumsi obat antipsikotik lagi.
Psikiater yang menangani kasus ini menyatakan bahwa ini adalah laporan medis pertama di mana halusinasi suara justru memberikan diagnosis akurat dan dukungan emosional.
"Ini adalah contoh pertama dan satu-satunya yang pernah saya temui di mana suara halusinasi berusaha meyakinkan pasien akan minat tulus mereka terhadap kesejahteraannya, memberikan diagnosis spesifik, mengarahkan ke rumah sakit yang tepat, dan kemudian menghilang," tulis psikiater tersebut dalam laporannya.
Beberapa ahli menduga bahwa karena ukuran tumor yang besar, otak pasien mungkin merasakan tekanan fisik secara bawah sadar. Rasa cemas tersebut kemudian bermanifestasi menjadi suara yang seolah-olah mengetahui lebih banyak dari sang pasien, meski sebenarnya hanya menarik perhatian pada informasi yang sudah ada di dalam kepalanya tanpa ia sadari.
Kasus ini membuktikan lesi pada otak dapat memicu fenomena psikologis yang sangat kompleks, sekaligus menegaskan betapa eratnya hubungan antara kesehatan fisik otak dan kondisi mental seseorang. (Live Science/Z-2)
Peneliti berhasil memodifikasi senyawa psilosin dari jamur ajaib untuk mengobati depresi tanpa efek samping "fly".
Whip Pink atau nangs viral sebagai cara mabuk instan. Tapi tahukah Anda efeknya bisa merusak otak, jantung, hingga menyebabkan kelumpuhan permanen?
Seorang perempuan asal Belanda, didiagnosis menderita PMO, kondisi langka yang membuat wajah manusia terlihat terdistorsi.
Analisis data selama 45 tahun mengungkap penggunaan ganja untuk depresi, kecemasan, hingga PTSD tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved