Digitalisasi Pembelajaran Dipercepat, Muatan Lokal Dihidupkan lewat Teknologi

Media Indonesia
16/4/2026 09:41
Digitalisasi Pembelajaran Dipercepat, Muatan Lokal Dihidupkan lewat Teknologi
Wamendikdasmen Fajar berkunjung ke SD Katolik Kanisius Wonogiri pada Rabu (15/4).(Dok Kemendikdasmen)

TRANSFORMASI pendidikan tak lagi berhenti pada wacana. Di ruang-ruang kelas Wonogiri, perubahan itu kini tampak nyata: layar Internet Flat Panel menggantikan papan tulis konvensional, menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup, interaktif, dan menyenangkan. Hal ini disampaikan oleh siswa-siswi kelas 5 SD Katolik Kanisius Wonogiri pada Rabu (15/4) kepada Wamendikdasmen Fajar saat kunjungan ke sekolah tersebut. 

Wamendikdasmen Fajar berkunjung ke kabupaten paling timur di Jawa Tengah, Wonogiri. Bersama dengan Bupati Wonogiri, Wamen Fajar turun langsung memastikan kesiapan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) sekaligus menilai arah transformasi pembelajaran di tingkat dasar.

Peninjauan di SD Kanisius Wonogiri memperlihatkan satu hal yang kian terang: teknologi bukan lagi pelengkap, melainkan fondasi. Dari proses login sistem ujian, stabilitas jaringan, hingga interaksi belajar berbasis layar digital, seluruh ekosistem pembelajaran bergerak menuju integrasi yang lebih sistematis. 

"TKA memberi kita cermin yang jujur tentang capaian belajar anak-anak Indonesia. Dengan dukungan teknologi seperti Internet Flat Panel, proses pembelajaran dan asesmen menjadi lebih presisi, terukur, dan transparan," ujar Fajar.

TKA di tingkat SD yang akan berlangsung pada 20-30 April 2026 ditegaskan bukan sebagai penentu kelulusan, melainkan instrumen diagnosis nasional. Dari hasilnya, pemerintah memetakan kesenjangan, merumuskan intervensi, dan mengarahkan kebijakan berbasis data.

Namun yang menarik, digitalisasi di Wonogiri tidak berhenti pada aspek teknis. Internet Flat Panel justru membuka ruang baru bagi revitalisasi muatan lokal, sesuatu yang selama ini kerap terpinggirkan dalam arus modernisasi pendidikan. 

Dalam kunjungan ke SD Kanisius Wonogiri, Wamen Fajar berkesempatan turut serta dalam kelas pelajaran Bahasa Jawa yang diajarkan melalui perangkat flat panel.

"Melalui flat panel, kami bisa mengajarkan pengenalan aksara Jawa dan sekaligus mempraktikkannya, bahkan pelajaran ini bisa dikemas melalui permainan yang menyenangkan," terang Nina Christantini, Kepala Sekolah SD Kanisius Wonogiri. 

Di tangan guru yang kreatif, teknologi ini menjadi medium untuk menghidupkan kembali konteks lokal: budaya, sejarah, hingga potensi daerah. Materi tidak lagi sekadar teks, tetapi hadir dalam bentuk visual, interaktif, dan dekat dengan pengalaman siswa.

"Transformasi digital tidak boleh mencabut akar lokal. Justru di sinilah teknologi bekerja, menguatkan identitas, bukan menggantikannya," kata Fajar.

Penguatan Guru di Daerah

Tak hanya meninjau kesiapan TKA, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq juga menghadiri kegiatan Penguatan Forum Guru Muhammadiyah yang diselenggarakan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Wonogiri, Selasa (15/4). 

Dalam forum yang dihadiri sekitar 300 guru Muhammadiyah, pesan itu ditegaskan kembali: kunci perubahan bukan pada perangkat, melainkan pada manusia yang menggunakannya. Guru dituntut bukan hanya melek teknologi, tetapi mampu merancang pembelajaran yang relevan, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan karakter. 

Dalam kesempatan tersebut, Wamendikdasmen juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk guru Muhammadiyah, untuk terus memperkuat pendidikan karakter melalui implementasi nilai-nilai kebajikan di sekolah. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya soal capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter peserta didik. 

"Kita ingin sekolah menjadi ruang yang memanusiakan manusia, tempat anak-anak tumbuh tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Di kelas-kelas yang kini terang oleh layar digital, masa depan itu mulai dibangun, perlahan, tetapi pasti," ungkapnya.

Wonogiri, dalam konteks ini, menjadi miniatur arah baru pendidikan nasional, ketika digitalisasi, asesmen berbasis data, dan penguatan nilai lokal berjalan beriringan. Model yang, jika direplikasi secara konsisten, berpotensi menggeser wajah pendidikan Indonesia dari sekadar sistem pengajaran menjadi ekosistem pembelajaran yang utuh. (RO/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya